Terlalu Sering Stres Berisiko Terserang Penyakit Alzheimer

Kompas.com - 16/08/2019, 11:17 WIB
Ilustrasi stres SHUTTERSTOCKIlustrasi stres

KOMPAS.com - Studi baru mengungkap, bahwa peristiwa hidup yang penuh tekanan seperti perceraian, kematian orang yang dicintai atau kehilangan pekerjaan, dapat menyebabkan penurunan memori dan meningkatkan risiko penyakit Alzheimer di kalangan wanita paruh baya.

Temuan penelitian ini telah diterbitkan dalam International Journal of Geriatric Psychiatry Journal, yang menunjukkan, bahwa hormon stres memainkan peran gender yang tak seimbang dalam kesehatan otak dan berkaitan dengan meningkatnya risiko penyakit Alzheimer pada wanita ketimbang pada pria.

Para peneliti mengatakan, jika penelitian di masa mendatang menunjukkan bahwa respons stres memang menyebabkan demensia, maka strategi yang dirancang untuk memerangi reaksi kimia tubuh terhadap stres harus dapat mencegah atau menunda timbulnya penurunan kognitif.

"Kita tidak bisa menghindari sumber stres, tetapi kita mungkin bisa menyesuaikan cara kita merespons stres, dan ini memiliki efek nyata pada fungsi otak seiring bertambahnya usia," kata Cynthia Munro, ph.D., professor muda psikiatri dan ilmu perilaku di Fakultas Kedokteran Universitas Johns Hopkins.

Baca juga: Cara Ampuh Menghilangkan Stres bagi Wanita Muda

Untuk penelitian ini, Munro dan timnya menggunakan data yang dikumpulkan pada lebih dari 900 peserta, 63% dari peserta adalah perempuan berusia 47 tahun.

Menutut Asosiasi Alzheimer, 1 dari 6 wanita di atas 60 tahun akan menderita penyakit Alzheimer dibandingkan dengan 1 dari 11 pria.

Saat ini, tidak ada perawatan yang bisa mencegah berkembangnya penyakit. Tingkat stres yang sedang berlangsung kemungkinan juga berdampak negatif pada fungsi otak.

"Respons stres normal menyebabkan peningkatan sementara pada hormon stres seperti kortisol, dan ketika sudah berakhir, kadar hormon akan kembali normal," ujar Munro.

"Tetapi, dengan stres berulang atau dengan sensitivitas yang meningkat terhadap stres, beban tubuh juga akan meningkatkan respons hormon, yang kemudian membutuhkan waktu lebih lama untuk pulih," lanjutnya.

Munro lebih lanjut menambahkan, jika kadar hormon stres terus meningkat dan tetap tinggi, hal ini tidak baik untuk hippocampus otak - pusat ingatan.

Saat ini kata Munro, obat sedang dikembangkan untuk melawan bagaimana otak menangani tingkat stres, dan kemungkinan dapat digunakan untuk mengatasi perilaku stres lainnya untuk menurunkan dampak stres pada pikiran yang menua.

Baca juga: Main Game di Ponsel Terbukti Efektif Meredakan Stres



Sumber Boldsky
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X