Mengenal Cita Rasa Cokelat Specialty dari 5 Daerah di Indonesia

Kompas.com - 23/08/2019, 07:50 WIB
Tempat dihidangkannya berbagai olahan cokelat, khususnya Cokelat Ransiki, pada acara peluncuran cokelat baru Pipiltin Cocoa. KOMPAS.com / NI PUTU DINANTYTempat dihidangkannya berbagai olahan cokelat, khususnya Cokelat Ransiki, pada acara peluncuran cokelat baru Pipiltin Cocoa.
|
Editor Wisnubrata

JAKARTA, KOMPAS.com - Istilah "specialty" mungkin lebih kita kenal dan lebih sering kita dengar untuk kopi. Tapi, tahukah kamu bahwa istilah ini juga berlaku pada cokelat?

Salah satu pihak yang ingin mengenalkan cokelat-cokelat specialty dari daerah-daerah di Indonesia adalah Pipiltin Cocoa.

Saat ini, Pipiltin memiliki lima varian cokelat specialty dari Indonesia, yaitu Bali, Aceh, Flores, Jawa Timur, dan Ransiki (Papua Barat) yang baru saja diluncurkan.

"Pipiltin memang mau memperkenalkan single origin chocolate di Indonesia. Jadi kami mencari sumber-sumber yang punya rasa unik," kata pendiri Pipiltin Cocoa, Tissa Aunilla di Alun-Alun Grand Indonesia, Jakarta Pusat, Kamis (22/8/2019).

Nah, seperti apa sih perbedaan cita rasa cokelat specialty tersebut?

  • Bali: biji cokelat dari Bali memiliki karakter rasa yang kebuah-buahan alias fruity, serta sedikit asam karena memiliki rasa seperti buah-buahan berry.
  • Aceh: cita rasa biji cokelat dari Aceh cenderung memiliki rasa kacang-kacangan yang kuat.
  • Flores: biji cokelat dari Flores memiliki rasa yang sangat "chocolaty" dan rasa rempah-rempah yang kuat. Maka untuk menyeimbangkan rasa rempah tersebut, Pipiltin menambahkan campuran gula kelapa pada varian cokelat Floresnya sehingga rasanya lebih seimbang.
  • Jawa Timur: biji cokelat dari Jawa Timur cenderung memiliki cita rasa yang manis seperti kismis dan madu.
  • Ransiki (Papua Barat): memiliki cita rasa nutty, earthy dan creamy. Karena terasa sangat creamy seolah mengandung susu di dalamnya, Pipiltin sama sekali tidak menambahkan susu untuk varian cokelat Ransiki.

Masih banyak daerah potensial

Indonesia sebagai negara yang pernah menempati posisi ketiga produsen cokelat terbesar di dunia tentunya memiliki wilayah-wilayah penghasil cokelat yang sangat banyak.

Namun, kata Tissa, saat ini Indonesia turun ke peringkat enam karena para petani cokelat merasa tidak mendapatkan harga yang layak dari menjual biji cokelat mereka.

Pipiltin pun ke depannya masih akan mengeksplorasi cokelat dari daerah lainnya di Indonesia.

"Sulawesi terbesar by volume, Kalimantan. Kami juga ada rencana ambil (biji cokelat) dari Berau, Pariaman juga," ucap Tissa.

Ia menambahkan, tanaman cokelat sebetulnya lebih mudah ditemukan karena ditanam di datatan rendah. Tidak seperti tanaman kopi yang harus ditanam di dataran tinggi.

"Kalau tanaman cokelat di bawah kopi. Jadi kalau kita jalan-jalan mungkin suka ketemu pohon cokelat tapi kita mungkin enggak tahu saja," tuturnya.

Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di artikel ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini!


Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di bawah ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X