Kompas.com - 27/08/2019, 11:31 WIB
|
Editor Wisnubrata

JAKARTA, KOMPAS.com - Kasus revenge porn kembali menjadi pembicaraan hangat dalam beberapa waktu terakhir.

Isu ini menghangat setelah munculnya kasus seorang mahasiswa perguruan tinggi negeri asal Yogyakarta, JA (26) yang nekat menyebarkan video dan foto intim dengan kekasihnya di media sosial.

Rasa sakit hati karena hubungan tak direstui orangtua kekasih menjadi penyebabnya.

Kemajuan teknologi diyakini menjadi salah satu faktor mengapa kasus revenge porn terus bermunculan.

Di satu sisi teknologi semakin maju dan penggunaan gawai (gadget) semakin banyak, namun di sisi lain literasi penggunaan gawai dan teknologi dinilai masih minim.

Psikolog dari Citra Ardhita Psychological Services, Ayoe Sutomo, M.Psi mengatakan, dalam sebuah relasi yang rentan terhadap kekerasan sebetulnya ada individu dengan konsep diri yang tidak kuat dan tidak mampu menilai dirinya secara positif.

Akibatnya individu itu cenderung berada pada posisi yang membiarkan pasangannya menguasai dirinya.

“Sehingga ada salah satu pihak yang sangat dominan dan individu itu merasa bahwa diperlakukan seperti itu baik-baik saja, akhirnya terjadi yang seperti itu,” ujar ketika dihubungi Kompas Lifestyle beberapa waktu lalu.

Baca juga: 5 Tanda Kamu Berada dalam Hubungan yang Beracun

Revenge porn sebagai bagian dari perilaku kekerasan terhadap perempuan sebetulnya tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan sudah bisa dilihat gejalanya dari awal.

Perempuan sebagai pihak yang sering ada di posisi korban dalam hal ini, bisa melakukan observasi dari perilaku pasangannya sehari-hari.

Misalnya, bagaimana emosi si pasangan mungkin mudah meledak-ledak hanya karena hal kecil atau pasangan sering mengatur, memaksa dan mengancam.

Beberapa perilaku tersebut sebetulnya sudah mengindikasikan bahwa pasangan tidak sehat secara emosi sehingga berpotensi melakukan hal-hal lainnya yang bersifat kekerasan.

Baca juga: 7 Tanda Hubungan Asmara Beracun, dan Harus Diakhiri

Tak sedikit perempuan yang menjadi korban revenge porn takut untuk mencari bantuan. Selain karena stigma yang melekat di masyarakat, korban biasanya juga khawatir dikriminalisasi balik karena melaporkan kejadian yang dialaminya.

Ketika menjadi korban, langkah apa yang perlu ditempuh?

1. Kembali pada keluarga

Korban amat membutuhkan dukungan orang-orang sekitar, terutama keluarga. Menurut Aktivis Gender, Tunggal Pawestri, jika orang-orang terdekat -terutama orangtua- dalam posisi mendukung korban, pelaku akan cenderung lebih mudah ditangkap.

Jika tidak nyaman berbicara dengan orangtua, cobalah berbicara dengan aktivis atau organisasi perempuan.

Sementara itu, Ayoe mengatakan bahwa orangtua sebetulnya juga punya peran atas kesalahan yang dilakukan anak. Keluarga idealnya melihat kembali pola asuh mereka dulu sehingga menghasilkan anak yang memiliki konsep diri lemah.

2.  Cari bantuan

Jika rasa takut dan tidak nyaman masih mendominasi, cobalah cari bantuan dari organisasi-organisasi perempuan terdekat serta bantuan hukum.

Tunggal Pawestri menyarankan para korban untuk mencari bantuan salah satunya ke LBH APIK karena sudah memiliki banyak pengalaman menangani isu-isu perempuan serta bisa menjangkau hingga ke daerah-daerah.

Jika tidak ada organisasi perempuan atau lembaga bantuan hukum khusus di daerahmu, aktiflah mencari informasi di internet untuk menghubunginya.

3. Mencari bantuan psikolog

Tunggal biasanya meminta korban menjelaskan situasi kasus dan kondisinya terlebih dahulu. Jika korban sangat ketakutan dan terganggu secara emosional atau psikis, ia akan menyarankan korban pergi ke psikolog untuk konseling.

"Karena saya takut kalau mereka langsung ke polisi akan menghadapi trauma kalau tidak kuat," ucapnya.

4. Menonaktifkan media sosial

Komisioner Komnas Perempuan, Mariana Amiruddin juga menyarankan korban untuk "menghilang" atau bahkan menonaktifkan semua media sosial.

Jika perlu, korban juga disarankan untuk mengganti nomor telepon dan ponsel. Hal ini menurutnya penting untuk psikologis korban agar korban tidak lagi mendengar omongan-omongan yang tidak berkenan dari orang lain.

Namun, jangan lupa menyimpan bukti-bukti terkait, misalnya percakapan dengan pasangan.

"Korban tidak perlu tahu apa yang terjadi di dunia maya tersebut. Buatlah sesuatu yang baru dengan dirinya," kata Mariana.

5. Menerima konsekuensi

Terakhir, kuatkan hati dan terimalah konsekuensi atas apa yang telah diperbuat sebelumnya. Yakinkan diri bahwa masalah ini akan selesai hanya jika kita berani dan berupaya menyelesaikannya.

“Sadarlah bahwa ini adalah konsekuensinya. Tapi di balik konsekuensi itu ada keluarga, lingkungan terdekat yang mendukung, ada juga orang yang memang secara kontinyu mendukung individu ini, itu membuat lebih ringan untuk menghadapinya,” kata Ayoe.

Baca juga: Hati-hati, 8 Perilaku Ini Bikin Hubungan Kamu dengan Pasangan Renggang

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.