Waspadai Penyakit dan Kondisi Berikut Sebelum Ikut Lomba Lari

Kompas.com - 28/08/2019, 08:49 WIB
Ilustrasi lari jarak jauh Pavel1964Ilustrasi lari jarak jauh
|
Editor Wisnubrata

Jika peserta tersebut memiliki hipertensi namun sedang mengkonsumsi obat-obatan tertentu sehingga penyakitnya terkontrol, maka dia boleh mengikuti lomba lari.

Sebab, lari sebetulnya membantu menurunkan tekanan darah. Hanya saja, peserta tidak dianjurkan lari dengan kondisi hipertensi.

Baca juga: Manfaat Olahraga untuk Orang Hipertensi dan Pilihannya

2. Masalah paru-paru

Jack menjelaskan, organ utama yang terlibat ketika seseorang berlari adalah jantung, paru-paru dan otot. Maka paru termasuk organ yang memerlukan perhatian khusus.

Ketika seseorang memiliki asma yang terkontrol sehingga sudah sangat jarang kumat maka sebetulnya mereka bisa ikut lomba lari.

Namun tidak bagi mereka yang asmanya kumat dalam frekuensi yang cukup sering, misalnya satu atau dua kali dalam seminggu.

"Enggak olahraga saja kumat. Jangan disuruh lari, nanti akan terpicu," katanya.

Ia menambahkan, lari sebetulnya memiliki efek bronkodilasi atau peningkatan diameter bronkiolus lewat pengeluaran sejumlah hormon, seperti hormon adrenalin.

"Jadi sebetulnya lari adalah bagian terapi untuk orang asma," katanya.

Baca juga: 9 Manfaat Jalan Kaki, Perkuat Jantung hingga Perbaiki Suasana Hati

3. Sistem otot dan sendi

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X