Kompas.com - 29/08/2019, 15:17 WIB

Wayang tersebut dijual dengan harga berbeda dari Rp 20.000-500.000. Margin keuntungan yang diambil pun, -menurut Tatang, tidaklah banyak.

Kendati demikian, pendapatan itu masih cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, termasuk menyekolahkan keenam anaknya. 

Tetapi, beratnya kondisi pemasaran semacam itu membuat seniman wayang menjadi prekerjaan yang semakin tidak diminati.

Baca juga: Mengenang Masa Kecil Lewat Wayang Suket...

Menurut Tatang, anak muda lebih memilih bekerja sebagai kuli bangunan. 

Tatang membandingkan, keuntungan bersih dari satu kepala yang dijual Rp 200.000 hanya Rp 50.000. Itu pun bila laku.

Sedangkan buruh bangunan bisa mengantongi upah bersih Rp 75.000-100.000 per hari.

Maka tak heran jika regenerasi seniman wayang golek menjadi "sekarat" karena para pekerjanya berganti mata pencarian.

"Dari awalnya mengecat wayang menjadi mengecat bangunan," kata dia.

Tatang pun mengaku bertahan menggeluti dunia wayang golek, karena tidak memiliki banyak keahlian. Ia hanya memiliki kemampuan di bidang ini.

Kampung Wayang Urban

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.