Kompas.com - 07/09/2019, 08:05 WIB
Founder Klei & Clay Divanda Gitadesiani Dok. Klei & ClayFounder Klei & Clay Divanda Gitadesiani

JAKARTA, KOMPAS.com - Di era media sosial saat ini, tak sedikit orang berusaha menampilkan yang terbaik, sekali pun itu bukan benar-benar dirinya.

Sebut saja masalah jerawat yang ditutup-tutupi, entah dengan filter kamera, aplikasi edit foto hingga make-up.

Alasannya simpel, ingin terlihat sempurna, tanpa cela. Bisa dibilang, hal itu dilakukan karena merasa tak percaya diri.

Kondisi krisis kepercayaan diri semacam itu juga pernah dialami oleh Divanda Gitadesani (29), founder skincare lokal, Klei & Clay.

Bahkan, hal itu dialaminya ketika ia masih berprofesi sebagai model, di mana ia mendapat banyak tuntutan untuk tampil sempurna, termasuk menjaga berat badan.

Baca juga: Skin Dewi, Mengedukasi Kita untuk Mengenali Kulit Sendiri

Situasi itu makin buruk ketika wajahnya berjerawat.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Dari sana, Diva, panggilan akrabnya, mulai membenahi dirinya satu per satu, diawali dengan berkonultasi ke psikolog untuk mengatasi rasa tak percaya dirinya.

Sedangkan untuk persoalan kulit, Diva yang semula pergi ke dokter, akhirnya memutuskan berhenti.

Ia beralih ke merek skincare luar negeri, sebelum akhirnya memilih meracik skincare sendiri, yang belakangan diberi nama Klei & Clay.

Keputusan ini diikuti dengan mempelajari kandungan pada skincare melalui kursus singkat di Formula Botanica, Inggris, pada tahun 2014. Kursus ini dilakoni lewat online sembari bekerja di bidang lain.

Produk-produk generasi awal yang dibuatnya dipakai untuk sendiri. Menariknya, kreasinya menyelesaikan persoalan jerawat yang selama ini dialaminya, yang kemudian menarik perhatian dan minat teman-temannya.

Dari sana, Diva mulai membuat berbagi produk. Ada yang berhasil, ada juga yang tidak. Namun Diva tak kalah semangat.

"Penelitian dan pengembangan cukup lama sampai akhirnya benar-benar siap untuk dipasarkan," ujar Diva.

Baca juga: Mengenal Kandungan dan Fungsi 5 Acid dalam Produk Skincare

 

Produk Klei & ClayKOMPAS.com/KAHFI DIRGA CAHYA Produk Klei & Clay
Self love

Kembali pada persoalan kepercayaan diri, Diva mengakui tak mudah saat menghadapi hal tersebut, sehingga kini ia mengajak setiap orang-- khususnya perempuan, untuk mencintai diri sendiri.

"Aku concern sama isu yang menyangkut anak muda yang mengalami stres karena masalah kecantikan. Aku mau bawa visi misi (Klei & Clay) itu ke sana," katanya.

"Aku mau buat skincare yang fun."

Gagasan besar yang dibawa oleh Diva dalam membangun bisnisnya adalah kesehatan mental. Ia mengklaim, hingga kini, belum ada label kecantikan yang serius peduli dalam persoalan tersebut.

"Aku selalu bilang, jangan takut sama diri sendiri dan setiap orang punya masanya. Acne is normal," cetus Diva.

Ajakan positif itu diharapkan bisa tersebar, sehingga bisa mengurangi risiko yang tak diinginkan, seperti menyakiti diri sendiri hingga mengakhiri hidup.

Baca juga: Votre Peau, Pengalaman sebagai Dokter Jadi Modal Ciptakan Formula Skincare

Julukan khusus

Diva tak pernah membayangkan jika racikannya, akhirnya bisa membantu banyak orang, terutama mereka yang memiliki masalah kulit berjerawat.

Salah satu produk yang menjadi unggulan untuk persoalan kulit tersebut adalah Green Clay Mask.

Menariknya, karena ‘keampuhannya’, nama Klei & Clay menyebar dari mulut ke mulut dengan cepat.

Bahkan, ada salah satu produk, face oil By Acne yang memiliki julukan sendiri di kalangan pengguna. Hal ini tak lepas dari kemampuan dari produk tersebut dalam mengatasi permasalahan jerawat.

"Bahkan ada yang sampai sebut 'obat jerawat'," ceritanya sambil tertawa.

Namun, Diva tak memersoalkan penyebutan itu. Ia lebih tertarik fokus pada racikannya yang diklaim natural.

Baca juga: Harga Skincare Natural Lebih Mahal, Ini Sebabnya...

Karena mengandung tea tree, dua produk di atas disebut anti-inflammatory dan anti-microbial effect. Fungsinya dapat menenangkan, mengurangi kemerahan, dan mencegah jerawat.

Lantas, bagaimana produk lain?

Hingga kini, menurut Diva, terdapat enam skincare dan satu produk lain.

“Masing-masing punya kelebihan sendiri serta memakai essential oil untuk efek lebih menenangkan,” jelasnya.

Efek tersebut dianggap sejalan dengan visi dan misinya untuk mengurangi stres pada perempuan, serta mencintai diri sendiri.

Ia mengakui, jika penggunaan minyak esensial bukan tanpa halangan. Ada pro dan kontra. Namun, ia memastikan penggunaan tersebut sesuai dengan batasan yang dianjurkan.

"Aku harus milih side mana, dan bertanggungjawab dengan hal tersebut," katanya.

Baca juga: Perlukah Remaja Bawa Produk Skincare ke Sekolah?

 

Pasar skincare lokal

Bicara soal bisnis, Diva mengatakan, saat ini, industri skincare lokal tengah berkembang pesat.

Hal ini tak lepas dari perubahan gaya hidup di masyarakat yang makin concern dengan konsep natural, dan akhirnya berimbas pada penggunaan produk lokal.

Masyarakat kini mulai sadar dengan gaya hidup sehat. Dimulai dari mencintai diri sendiri, kemudian menggunakan bahan-bahan natural, hingga mencoba memakai sesuatu yang green-friendly.

"Nah, akhirnya memakai skincare yang green friendly juga," ujar Diva.

Perubahan tersebut, diakui Diva, diikuti dengan kemunculan tren baru berupa DIY (Do It Yourself) membuat skincare sendiri.

Kini seakan dengan mudahnya, berbekal video dari YouTube, orang bisa meracik bahan-bahan sendiri untuk membuat sebuah produk perawatan wajah.

Diva mengatakan, ia tak melarang siapapun untuk melakukannya, tapi ia mengingatkan untuk tidak sembarangan dalam mencampur bahan-bahan, terutama penggunaan bahan-bahan kimia untuk pelarut.

Baca juga: Penggunaan Skincare Berlebihan Justru Merusak Kulit

Di sisi lain, industri skincare sejenis Klei & Clay juga dianggap tumbuh, mengingat pasar yang kini semakin luas.

Namun Diva tak ambil pusing melihat maraknya merek-merek baru skincare lokal yang terus muncul. Baginya terpenting adalah fokus untuk pengembangan dan inovasi merek yang dibesarkan sejak lebih dari 2 tahun lalu.

Salah satu yang kini akan dibuat oleh Klei & Clay adalah emulsion. Jenis produk tersebut lebih ringan dan mudah menyerap, terutama dengan iklim Indonesia yang cukup panas.

"Aku mau yang menyegarkan, tapi dengan khasiat oke," katanya.

Emulsion pun dianggap memiliki harga lebih terjangkau, dibanding serum yang perlu merogoh kocek dalam.

"Kalau serum, harganya bisa di atas Rp 200.000, bisa bikin konsumen aku kabur nanti," ujar Diva yang menyebut harga produknya di bawah angka tersebut.

Selain itu, kini Klei & Clay juga siap menambah produksi, karena akan segera diproduksi di pabrik.

Ia memastikan pabrik yang dipillih sesuai dengan semangatnya, terutama soal penggunaan bahan yang memang standar produk natural.

Baca juga: Saran Rachel Goddard untuk Anak Muda yang Mulai Pakai Skincare

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.