Sisi Buruk Tote Bag Pengganti Kantong Plastik

Kompas.com - 10/09/2019, 12:08 WIB
Ilustrasi. Ilustrasi.

KOMPAS.com – Kampanye pengurangan sampah plastik, termasuk dalam bentuk kantong belanjaan, membuat banyak orang menggunakan kantong alternatif, salah satunya adalah tote bag yang bisa dipakai berulang kali.

Meski lebih ramah lingkungan dibanding kantong plastik sekali pakai, tote bag, apa pun materialnya, ternyata butuh lebih banyak energi untuk memproduksi, menyalurkan, dan mendaur ulang.

Kantong plastik memang ancaman bagi lingkungan dan juga kesehatan. Meski begitu, pemakaian tas berbahan katun, polyester, atau pun polipropilena, sebagai tas yang bisa dipakai berulang kali, ternyata juga memiliki sisi buruk.

“Tergantung pada komposisinya, tas yang dipakai berulang itu membutuhkan proses daur ulang yang lebih mahal untuk memisahkan materialnya yang berbeda-beda. Konsekuensinya, tas yang bisa dipakai berulang itu tidak didaur ulang,” demikian menurut laporan dari Program Lingkungan PBB.

Hal itu berarti, terlepas dari tujuannya yang baik untuk menggantikan kantong belanja plastik, kantong belanja semacam tote bag tersebut juga akan berakhir di pembuangan sampah.

Apalagi, tote bag kini dipakai sebagai bagian dari promosi atau pemasaran produk. Ii berarti, ada banyak tas-tas itu yang dipakai satu kali (bahkan tidak dipakai sama sekali), lalu berakhir di tong sampah.

Selain itu, tidak semua tas yang bisa dipakai berulang itu setara dalam hal kemampuannya di daur ulang.

Baca juga: Hidup Tanpa Kantong Plastik, Mungkinkah?

Ada beragam jenis reusable bag, mulai dari yang ukurannya besar sampai yang bisa dilipat kecil dan masuk saku. Ada tas yang bahannya tebal dan kuat, tapi ada juga yang tipis.

Tas yang dipakai berulang itu pada umumnya terbuat dari beberapa jenis material. Dalam siklus hidupnya, tas yang kuat dan berat, apa pun materialnya (meski katun adalah yang terburuk), akan berdampak lebih besar pada lingkungan.

Ini karena tas yang lebih berat memakai banyak sumber daya dalam pembuatannya dan juga distribusinya.

IlustrasiShutterstock Ilustrasi

Meski begitu, tote bag yang bisa dipakai berulang itu tetap saja sedikit lebih baik dibanding tas plastik. Nah, untuk mengurangi efek buruknya bagi lingkungan, ada beberapa hal yang bisa kita lakukan:

- Jika kita memiliki banyak tote bag dan tak ingin menyimpannya, jangan langsung dibuang. Kita bisa menyumbangkannya.

- Sesuai dengan tujuannya, seharusnya tote bag tersebut kita pakai berulang kali sebanyak mungkin. Menurut sebuah penelitian, kita harus menggunakan tote bag katun sebanyak 327 kali untuk mencapai rasio penggunaan karbon. Sebagai perbandingan, tas kerta hanya perlu dipakai 7 kali dan tas plastik 2 kali.

- Tote bag yang dipakai untuk berbelanja bahan makanan kemungkinan besar mengandung banyak bakteri. Jika ta situ dipakai untuk membawa daging, ikan, buah, atau sayuran, rajin-rajinlah mencucinya. Disarankan untuk mencucinya setiap kali kita memakainya ke pasar.

Kita juga bisa memisahkan tote bag untuk bahan makanan basah dan kering untuk mencegah kontaminasi bakteri.

Baca juga: Yuk, Konsisten Diet Plastik

 

Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di artikel ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini!


Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di bawah ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X