Kompas.com - 14/09/2019, 17:45 WIB
Ilustrasi ShutterstockIlustrasi

KOMPAS.com - Dalam beberapa kondisi, Si Kecil bisa menjadi sangat emosi. Misalnya, ketika lapar, mengantuk, atau merasa kecewa karena suatu hal.

Ada kalanya, ketika menghadapi emosi Si Kecil, alih-alih menenangkannya, kita orangtua justru ikut terbawa emosi.

Padahal, sebaiknya mengendalikan emosi anak dilakukan tanpa memarahi atau membentaknya.

Pasalnya, ini menjadi bagian dari proses dalam mengajarkan Si Kecil bagaimana cara merespons sesuatu tanpa bertindak.

Melansir Nakita.id, membiasakan pengendalian diri merupakan keterampilan penting, karena hal ini berperan pada kesuksesan anak kelak.

Dengan mengendalikan diri, Si Kecil dapat membuat keputusan yang tepat serta tahu cara menghadapi situasi sulit dengan cara positif.

Baca juga: Trik Tepat Dukung Pertumbuhan Si Kecil agar Jadi Anak Unggul

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Misalnya saat ia menunggu makanan.

Anak tahu bahwa ia sedang lapar, namun pengendalian emosi akan membuatnya tetap bersabar tanpa marah dan menangis.

Orangtua menjadi sosok yang paling penting dalam hal ini, sebab anak banyak meniru apa yang dilakukan oleh ayah dan ibunya.

Apabila kedua orangtua sehari-hari sering menunjukkan perilaku yang emosional, seperti berteriak keras, sering marah-marah apalagi disertai dengan tindakan fisik dan kata-kata yang kasar, bukan tak mungkin anak akan mengikuti apa yang dilakukan orangtuanya.

Baca juga: Tiga Faktor Penting untuk Dukung Perkembangan Si Kecil di Usia Emas

Mengontrol emosi anak

Ada beberapa cara yang bisa orangtua lakukan untuk mengajarkan anak untuk mengontrol emosi.

Mengajarkan anak untuk mengontrol emosi, juga perlu disesuaikan dengan usianya agar sesuai dengan tumbuh kembangnya.

Hingga anak berusia dua tahun, anak cenderung mengalami emosi ketika ada kesenjangan antara apa yang ingin anak lakukan dan apa yang mereka bisa lakukan.

Misalnya, mereka ingin menggapai benda padahal mereka memang belum mampu, sehingga akan membuatnya langsung menangis dan marah.

Cobalah untuk mengalihkan anak dengan mainan atau kegiatan seru lainnya.

Baca juga: Cara Tepat Menjawab Anak yang Selalu Bertanya Kenapa?

Saat menginjak usia dua tahun, anak bisa diperkenalkan dengan metode time out.

Berikan waktu untuk anak menenangkan diri.

Ajarkan pada mereka, bahwa mengambil waktu untuk sendirian akan lebih baik dibanding membuat ulah.

Mengajarkan anak untuk tenang akan membantu meningkatkan kontrol atas dirinya sendiri.

Jangan lupa puji anak saat ia berhasil mengendalikan situasi sulit.

Sekali lagi, mengendalikan emosi anak sangat bergantung pada orangtuanya.

Ketika anak terbiasa melihat ayah dan ibunya menangani situasi dengan amarah, ia tentu akan melakukan hal yang sama.

Maka, penting untuk melatih kesabaran anak, sehingga ketika bertemu dengan orang lain di luar rumah, anak mampu mengenali dan mengendalikan emosi dengan baik.

Baca juga: Bagaimana Menghadapi Fase Terrible Two pada Si Kecil?

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Sumber NAKITA
Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.