Kompas.com - 19/09/2019, 16:12 WIB

KOMPAS.com - Media sosial memang pedang bermata dua, bisa mengakrabkan kita dengan orang yang sedang berjauhan, tapi juga bisa jadi sumber stres, bahkan kejahatan. 

Media sosial yang lahir seiring dengan perkembangan teknologi saat ini memang sudah menjadi bagian dari hidup. Namun, pernahkah kamu membayangkan apa yang akan terjadi seandainya media sosial tidak pernah ada?

Melansir laman Reader's Diggest, berikut 13 hal yang terjadi jika media sosial tidak penah diciptakan:

1. Kita menjadi lebih bahagia

Riset 2015 dari Happiness Research Institute Kopenhagen terhadap sekitar 1000 peserta membuktikan, tanpa media sosial manusia merasa lebih bahagia.

Setelah satu minggu hidup tanpa Facebook, para peserta justru memiliki tingkat kepuasan hidup yang secara signifikan lebih tinggi.

Peserta tidak hanya lebih bahagia, mereka juga merasa lebih antusias dan menikmati hidup.

2. Menemukan jodoh dengan cara kuno

Di zaman serba canggih ini, menemukan teman kencan sangat mudah. Kita bisa memanfaatkan aplikasi kencan online untuk menemukan pasangan impian.

Jika berbagai aplikasi tidak pernah ada, kita harus kembali ke cara lama untuk menemukan cinta sejati. Mungkin butuh cara lebih lama untuk mengenal gebetan dan meyakinkan dirinya untuk mau menerima cinta kita. Tapi, proses itu biasanya membuat kita benar-benar mengenal kepribadiannya, bukan apa yang ditampilkan di media sosialnya.

Baca juga: Di-ghosting hingga Dirampok, Pengalaman Buruk Jalani Kencan Online

3. Sulit menyuarakan pendapat

Media sosial memudahkan semua orang untuk menyuarakan pendapatnya demi membawa perubahan besar.

Menurut laporan HuffPost, kemunculan Facebook telah dimanfaatkan sebagai alat de-sentralisasi. Alhasil, semua orang mendapatkan kesempatan yang sama untuk turut membangun perubahan.

Misalnya, kita bisa dengan mudah menulis petisi dan meminta dukungan banyak orang dengan menggunakan hastag tertentu di media sosial.

Ilustrasi media sosialSHUTTERSTOCK Ilustrasi media sosial

4. Cara belajar berbeda

Sebuah studi yang melibatkan hampir 35.000 anak sekolah di Abu Dhabi, yang diterbitkan dalam jurnal Telematics and Informatics pada 2017 menemukan, media sosial sebenarnya membantu anak-anak di lingkungan belajar.

Anak-anak bisa berbagi informasi dan ide dengan orang lain dan meningkatkan keterampilan membaca mereka.

Di sisi lain, peneliti juga mengatakan media sosial dapat berpengaruh negatif pada anak-anak karena bisa mengalihkan fokus perhatian anak terhadap tugas-tugas sekolah mereka.

5. Susah menemukan pekerjaan yang potensial

Media sosial telah menjadi cara bagi perekrut kerja dan departemen SDM untuk menemukan karyawan potensial.

Menurut sebuah studi tahun 2017 yang dilakukan oleh Society for Human Resource Management (SHRM), 84 persen perusahaan menggunakan media sosial untuk merekrut karyawan, dan jumlah itu terus bertambah.

Adanya media sosial juga berguna untuk merekrut kandidat secara pasif. Walau tidak berencana pindah kerja, tapi banyak orang memanfaatkan media sosial untuk membangikan resume agar bisa dilihat oleh siapa saja, termasuk pihak perekrut kerja.

Baca juga: 5 Keahlian yang Harus Anda Tulis dalam Resume

6. Gaya hidup konsumtif dan kejahatan berkurang

Media sosial memang bisa menjadi sarana yang bagus untuk promosi produk. Namun, hal ini bisa meningkatkan gaya hidup konsumtif.

Selain itu, media sosial juga menjadi "lahan" subur untuk doxxing atau praktik berbasis internet untuk meneliti dan menyiarkan informasi pribadi atau mengidentifikasi tentang individu atau organisasi.

Tentunya, hal ini bisa membuat data-data pribadi kita rentan disalah gunakan oleh oknum tak bertanggung jawab.

Baca juga: Pencurian Data hingga Bitcoin, 5 Kejahatan Siber yang Intai Perusahaan

7. Berpikir sebelum berpendapat

Media sosial memang memberi kesempatan yang sama agar semua orang bisa menyuarakan pendapat. Namun, banyak orang menyembunyikan identitas dirinya di media sosial agar bisa berpendapat tanpa bertanggung jawab.

Dengan menyembunyikan identitas, oknum tersebut bisa bersikap kasar, agresif, atau menyebar permusuhan tanpa memikirkan akibatnya.

Tanpa media sosial, kita tidak mudah terhasut oleh hal-hal tersebut dan membuat kita berpikir terlebih dahulu sebelum berbicara.

8. Tidak membandingkan diri dengan orang lain

Salah satu efek negatif adanya media sosial adalah kita mudah membandingkan diri dengan orang lain.

Unggahan-unggahan orang lain yang nampak fantastis bisa dengan mudah membuat kita iri dan rendah diri sehingga selalu merasa gagal.

Menurut CEO Happiness Research Institute, Meapp Wiking, kemunculan facebook membuat banyak orang memamerkan apa yang ia miliki sehingga menimbulkan iri dan minder bagi orang lain yang melihatnya.

Padahal, tidak smeua orang terlihat sempurna di dunia nyata seperti yang mereka tunjukan di dunia maya.

Baca juga: Remaja di Era Media Sosial Dihantui Kecemasan

IlustrasiShutterstock Ilustrasi

9. Kita mulai membaca koran

Menurut riset 2018 dari Pew Research Center survey, 68 persen orang dewasa di Amerika Serikat mengaku mendapatkan berita dari media sosial. Dengan sekali klik, kita bisa mendapatkan beragam berita terkini.

Meskipun menyenangkan untuk tidak harus berkeliling untuk mencari tahu apa yang terjadi di dunia, beberapa informasi di media sosial mungkin tidak akurat.

10. Kita tidak mudah buang-buang waktu

Menurut penelitian yang diterbitkan di Computers in Human Behavior pada tahun 2014, orang yang menggunakan Facebook khususnya — daripada media sosial lainnya — cenderung mengalami depresi.

Semakin banyak waktu yang mereka habiskan di jejaring sosial, semakin tinggi kemungkinan mereka mengalami depresi karena merasa waktu mereka terbuang percuma. Tanpa media sosial, produktivitas dan kebahagiaan kita meningkat.

11. Kita memiliki privasi lebih

Informasi pribadi yang kita bagikan di media sosial bisa saja jatuh ke tangan yang salah.

Meski kita sudah menjaga privasi dengan sebaik mungkin, ada hal-hal di luar kendali yang bisa terjadi di media sosial. 

12. Tak mudah merasa sepi

Pada awalnya, tanpa media sosial kita mungkin akan merasa sepi. Saat sendiri kita bisa menelepon atau mengajak teman untuk mengobrol lewat aplikasi chatting.

Tetapi penelitian terbaru yang diterbitkan dalam American Journal of Preventive Medicine menemukan, media sosial cenderung meningkatkan perasaan kesepian dan isolasi, terutama di kalangan anak muda.

13. Harga diri meningkat

Unggahan selfi atau postingan yang kita unggah di media sosial bukanlah bentuk kepercayaan diri tetapi sebuah narsisme, yang justru membuat kita merasa rendah diri.

Menurut riset terbaru, orang-orang yang memposting dan melihat selfie mengalami penurunan harga diri. Sebaliknya, orang yang jarang melakukan selfi justru memiliki tingkat harga diri yang lebih baik.

Baca juga: Orang yang Sering Unggah Selfie Cenderung Dipandang Kurang Sukses

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.