Kompas.com - 20/09/2019, 17:52 WIB

KOMPAS.com - Kabar mengenai maraknya kasus kerusakan paru-paru yang dialami ratusan orang di Amerika Serikat, dalam hitungan minggu, kian memicu polemik mengenai dampak buruk rokok elektrik.

Selama ini -termasuk di Indonesia, rokok elektrik alias vape digadang-gadang aman untuk dikonsumsi dan tidak memiliki dampak terhadap kesehatan seperti rokok tembakau.

Padahal perbedaan vape dengan rokok konvensional hanya pada kandungan tembakau. Rokok konvensional menggunakan tembakau, vape tidak.

Baca juga: Di 9 Negara Ini, Vape Dilarang!

“Tapi vape mengandung zat lain yang sama berbahaya dengan rokok konvensional.”

Begitu kata Perwakilan Departemen Penyakit Dalam Divisi Respirologi Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung, dr Iceu Dimas Kultsum SpPD, saat dihubungi Kompas.com, Jumat (20/9/2019).

Iceu mengatakan, dalam sejumlah penelitian terungkap, vape mengandung formaldehida, benzena, dan akrolein.

Zar kimia tersebut bersifat karsinogenik yang bisa memicu kanker.

Baca juga: Rokok Tembakau Vs Vape, Mana yang Lebih Berbahaya?

Cara kerjanya, zat itu akan merusak inti sel, hingga terjadi perubahan struktur. Perubahan ini selanjutnya menjadi asal muasal munculnya kanker.

“(Dalam penelitian) ada yang menghubungkan dengan kanker paru dan kanker kantung kencing,” imbuh dia.

Penelitian itu memang tergolong hasil riset awal, karena vape pun masih tergolong barang baru, dibandingkan rokok konvensional tentunya.

“Meski zat kimia yang dtemukan belum selengkap rokok konvensional. Tapi cukup untuk menggambarkan vape tidak benar-benar aman,” imbuh lulusan Universitas Padjadajaran (Unpad) Bandung ini.

Baca juga: Berkaca dari Rusaknya Paru-paru Adam, Vape THC atau Nikotin Sebabnya?

Selain itu, kandungan nikotin yang ada dalam vape membuat pemakainya ketagihan. Karenanya, salah jika orang beranggapan vape menjadi jembatan untuk berhenti merokok.

Tak hanya bagi pemakai vape, Iceu menyebut, ancaman kesehatan ini pun berlaku bagi perokok pasif atau orang yang menghirupnya. Sebab, asap yang dihasilkan dari vape mengandung zat yang sama.

Kanker

Iceu mengungkapkan, proses pemakai vape hingga akhirnya mengalami gangguan kesehatan memerlukan waktu yang bergantung pada karakteristik orang tersebut.

“Ada yang satu tahun, ada yang lima tahun. Setiap orang berbeda tergantung karakteristik dan kondisi sel orang itu,” ucap dia.

Baca juga: Tak Usah Didebat Lagi, Vape Sama Bahayanya dengan Rokok Tembakau

Misal ada orang yang seumur hidup merokok, tapi tidak terkena kanker. Itu bisa terjadi karena di badannya tidak memiliki bakat untuk sel kanker.

“Yang lain, satu tahun merokok vape muncul kanker. Salah satu faktor seseorang terkena kanker adalah ia memiliki sel yang berbakat untuk berubah menjadi sel kanker,” cetus dia.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.