10 Tanda Terjebak dalam Pernikahan yang Tak Bahagia

Kompas.com - 23/09/2019, 07:00 WIB
Ilustrasi pasangan shutterstockIlustrasi pasangan

KOMPAS.com - Menjalani pernikahan memang tak akan selalu seindah yang ditampilkan di media sosial. Akan ada pasang surut dalam rumah tangga. Jika tidak bisa menjalaninya, kita akan terjebak dalam ketidakbahagiaan.

Dari pengalaman psikoterapis Ross Grossman, mayoritas pasangan memperdebatkan tiga hal yakni uang, seks, dan kekuasaan.

Tiga hal tersebut biasanya berpusat pada kekuasaan. Misalnya, siapa yang memutuskan kapan melakukan hubungan seks, siapa yang memutuskan bagaimana uang harus dibelanjakan dan sebagainya.

"Kebanyakan orang ingin memiliki semacam 'agensi' dalam hubungan mereka. Mereka ingin bisa bersuara,” kata Grossman.

Terkadang, satu pihak bisa bertindak terlalu jauh sehingga pihak yang lain merasa seperti budak karena harus melakukan printah atau permintaan pasangan. Inilah yang menyebabkan pernikahan tidak bahagia.

Pihak yang merasa berkuasa biasanya merasa paling tahu apa yang terbaik, sehingga jika pasangan tak mau memenuhi apa yang diinginkannya, ia merasa orang tersebut harus dihukum.

Mental sok tahu ini menyebabkan banyak masalah dalam pernikahan dan merasa ada hal yang tidak bisa terpenuhi dalam pernikahannya.

Tanpa kita sadari, sebenarnya ada beberapa hal yang menunjukan "tanda merah" dalam pernikahan kita.

Agar kita lebih waspada, berikut 10 tanda pernikahan yang tidak bahagia:

1. Pasangan sangat tertutup dengan akun media sosial dan ponselnya

Selama kita tidak menuntut laporan harian dan tidak memantau trus-menerus, sebenarnya bukan masalah besar untuk sesekali minta melihat akun media sosial atau telepon pasangan.

Tetapi, kita juga harus bertanya pada diri sendiri, mengapa kita ingin melihat telepon pasangan, apakah kita curiga si dia tidak setia.

Grossman menyarankan untuk membicarakan dengan pasangan tentang privasi dan kepercayaan.

Dengan begitu, kita bisa menanyakan alasan pasangan mengapa tidak mau berbagi akun media sosial atau tertutup mengenai ponselnya.

Baca juga: 9 Alasan Pentingnya Memblokir Nomor dan Media Sosial Mantan Pacar

2. Pasangan tak bergairah

Ada beberapa hal yang membuat gairah seks menurun. Tapi, jika penurunan gairah seks ini terjadi cukup lama, sudah saatnya kita mengajak pasangan untuk berbicara.

Seperti hampir semua masalah dalam suatu hubungan, kuncinya adalah berbicara dengan pasangan untuk mengetahui apa yang sedang terjadi.

3. Pasangan tidak mengungkapkan pujian atau ucapan terima kasih

Setiap hubungan butuh apa yang disebut dengan "simpanan cinta". Maksutnya, terkadang kita juga perlu berterima kasih atau memberi tahu dirinya seberapa menarik penampilannya.

Grossman mengatakan kita perlu membangun "simpanan cinta" dengan memberi pujian, hadiah, kejutan atau memberi layanan yang baik pada pasangan.

Baca juga: Riset Ungkap 4 Alasan Populer Pasangan Bercerai

4. Bertengkar di depan umum

Tidak peduli seberapa kuat hubungan antara kita dan pasangan, akan ada saat-saat kita tidak setuju dan saling berdebat.

Namun, jika pasangan kita seringkali emosi dan tidak memiliki kontrol diri yang baik, dia memiliki mental "sok kuasa".

Pada dasarnya, dia sedang berpikir bahwa sebagai pasangannya kita harus selalu bertindak dengan sempurna. Jika tidak, dia merasa memiliki hak untuk menghukum kita di manapun kita berada.

5. Takut mengutarakan hal kritis atau penolakan

Menurut Grossman, kita tak seharusnya mencegah pertengkaran dengan mengorbankan diri sendiri.

“Damai itu baik, ketenangan itu baik, tetapi takut menghadapi perselisihan bisa menghancurkan hubungan,” katanya.

Meski pasangan kita sulit mengontrol emosi, jangan takut mengutarakan pendapat. Terkadang, orang menghindari pertengkaran dengan pasangan karena mereka percaya harus menjadi sempurna.

IlustrasiThinkstock Ilustrasi

6. Kita atau pasangan tak punya selera humor

Humor sangat penting dalam pernikahan karena tawa akan mendatangkan kebahagiaan dalam rumah tangga.

Terkadang, hal-hal remeh seperti kentut di depan pasangan atau perbedaan perspektif bisa menjadi sumber tawa.

Menurut Grossman, hal tersebut justru membuat kita dan pasangan sadar bahwa kita adalah manusia yang dapat berbuat salah.

Jika segala sesuatu dipandang serius, justru akan menyebabkan kekacauan dalam pernikahan.
Kurangnya humor akan menyebabkan pernikahan tidak bahagia.

Baca juga: Pernikahan Memicu Stres Dua Kali Lipat Ketimbang Mengurus Anak

7. Tak mampu menerima kritik

Tidak ada yang suka menerima kritik. Namun, ketidakmampuan untuk mendengar kritik hanya menunjukkan citra diri yang sangat goyah.

Pada kenyataannya, hal ini menunjukkan kurangnya humor dan kurangnya kesadaran bahwa manusia bisa berbuat salah.

Bagaimanapun, berbuat salah adalah manusiawi. Jika kita tidak dapat menerima kritik, maka kita tidak bisa tumbuh lebih baik dan menemukan solusi untuk menyelesaikan masalah.

8. Pasangan tak mau bertanggung jawab atas kesalahannya

Pada tahap tetentu, perdebatan yang terjadi adalah kontribusi dari kedua pihak. Hal yang wajar jika pertengkaran terjadi dalam pernikahan. Jika ada sesuatu yang terasa salah, maka katakanlah dan berbuatlah sesuatu.

Namun, hanya bertindak sebagai pihak yang menjadi korban tidak bisa menyelesaikan masalah. Tetapkan batasan yang sehat pada apa yang bisa dan tidak bisa kita toleransi. Sekali lagi, kita harus menyadari jika manusia bisa saja membuat kesalahan.

9. Menyimpan dendam

Tidak bisa menerima kesalahan, menuntut pasangan untuk selalu bertindak sempurna aadalah bentuk hubungan yang tidak sehat. Apalagi jika kesalahan kecil pun tidak termaafkan dan malah menimbulkan dendam.

"Menyimpan dendam seperti meludahi musuhmu dengan menelan racun. Memaafkan sebenarnya bisa menjadi hal terbaik yang bisa dilakukan karena itu membebaskan Anda dari rasa sakit karena kebencian," kata Grossman.

10. Pasangan tidak mau menerima permintaan maaf

Wajar jika kita sesekali membuat kesalahan. Beberapa orang mungkin tidak bisa memaafkan kesalahan pasangan jika kesalahan yang dilakukan terlampau besar, seperti berselingkuh.

Namun, jika kesalahan yang dilakukan pasangan bukan hal-hal semacam melanggar komitmen pernikahan atau kekerasan fisik, penting untuk membuka pintu maaf.

Selalu menolak upaya untuk memperbaiki kesalahan adalah tanda-tanda rusaknya sebuah hubungan.

Baca juga: Suami Terbukti Selingkuh, Cerai atau Tidak?



Sumber menshealth
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X