Indahnya Batik yang Dibuat dari Daur Ulang Limbah

Kompas.com - 27/09/2019, 16:45 WIB
Peragaan busana acara Sustainable Batik Day yang digelar Galeries Lafayette Jakarta dan Bank BRI di mal Pacific Place Jakarta (25/9). Dok Galeries LafayettePeragaan busana acara Sustainable Batik Day yang digelar Galeries Lafayette Jakarta dan Bank BRI di mal Pacific Place Jakarta (25/9).

 

KOMPAS.com – Dengan sentuhan kreativitas, bahan-bahan yang sudah tak terpakai di sekitar bisa menjelma menjadi alat untuk membuat batik dengan nilai estetis tinggi.

Label busana batik NES mengeluarkan seri Batik Baik yang tahap produksinya menggunakan material dari bahan daur ulang dan ramah lingkungan, seperti sumpit, kertas koran, sendok es krim, hingga, karung goni yang ditempel di tripleks.

Koleksi batik NES.Dok Galeries Lafayette Koleksi batik NES.
“Saya bekerja sama dengan pak Heri yang menciptakan alat cap batik dari barang-barang bekas dan tripleks. Biasanya kan alat cap batik terbuat dari tembaga, ini beda,” kata pendiri batik NES, Helen Dewi Kirana dalam acara Sustainable Batik Day yang digelar oleh Galeries Lafayette dan Bank BRI di mal Pacific Place Jakarta (25/9).

Diceritakan oleh Heri, pada awalnya ia membuat alat cap dari bahan daur ulang ini karena terpaksa.

“Awalnya karena enggak punya modal, kalau bikin alat cap dari tembaga paling murah harganya Rp 500.000 sampai satu juta. Untuk kembali modal, harus menjual berapa kain. Kalau alat yang saya buat ini modalnya hanya tenaga,” kata Heri dalam acara yang sama.

Dari kolaborasi Helen dan Heri, lahirlah motif-motif batik yang unik dan dibuat dengan pewarna alam.

Helen menambahkan, sejak awal mendirikan batik NES, ia memang tidak ingin hanya berorientasi pada bisnis saja, tapi juga memiliki misi yang baik bagi sekitar, termasuk lingkungan.

Ia misalnya, juga memanfaatkan potongan-potongan kain sisa produksi menjadi aneka produk seperti dompet kecil atau tempat sendok.

Selain batik NES, dalam acara sustainable Batik Day itu, Galeries Lafayette juga menghadirkan beberapa brand lokal yang diproduksi secara berkelanjutan. Misalnya saja brand aksesoris Ella & Glo dan Jinjit Pottery, yang juga memakai bahan daur ulang untuk mengurangi limbah.

Contoh cap untuk membuat batik yang terdiri dari papan tripleks dan bahan-bahan limbah seperti sumpit, kertas koran, atau karung goni.Kompas.com/Lusia Kus Anna Contoh cap untuk membuat batik yang terdiri dari papan tripleks dan bahan-bahan limbah seperti sumpit, kertas koran, atau karung goni.

Seiring dengan kampanye penyelamatan lingkungan, cara memproduksi batik juga dapat menggunakan metode zero waste sehingga berkontribusi dalam menjaga kelestarian alam.

“Untuk koleksi yang kami tampilkan dalam acara ini merupakan 100 persen karya pengrajin lokal, jadi dengan berbelanja koleksi ini, para pelanggan setia juga turut mendukung pengrajin lokal terus berkarya,” kata Arnolda Ratnawati, Marketing Direktur PT Panen Lestari Internusa, induk perusahaan Galeries Lafayette.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X