Ketika Tips Kesehatan Berujung Pembodohan

Kompas.com - 30/09/2019, 17:12 WIB
Ilustrasi ThinkstockphotosIlustrasi

KOMPAS.com - Tulisan ini dibuat setelah saya terhenyak mendengar ibu saya sendiri bertanya,”Bener enggak sih makan nanas itu bagus buat asam urat?”

Dari sekian banyak berita, informasi dan tayangan yang bisa dibuka melalui ponsel, rupanya tautan-tautan seputar jurus-jurus sehat menjadi topik terhangat sepanjang masa.

Situasi ekonomi dan politik boleh berubah, tapi tidak ada satu orang pun yang mau berubah dari sehat menjadi sakit.

Apalagi yang sudah sakit – bukan biaya berobat saja yang mahal, antriannya pun tak kepalang tanggung panjangnya.

Salah-salah orang bisa meninggal lebih dahulu sebelum antrian berobatnya datang, seperti pasien saya yang harus menunggu jadwal operasi hingga tiga bulan ke depan.

Bahkan tidak jarang saking kesalnya berobat tak kunjung sembuh, banyak orang akhirnya memilih ‘belajar hidup sehat’ melalui mesin pencari informasi terhandal abad ini: Google. Sering saya plesetkan sebagai “fakultas kedokteran internasional”.

Baca juga: Mimpi Sehat Gaya Teknokrat dan Birokrat, Mungkinkah?

Mau yang lebih visual atraktif? Youtube. Secara detil ditayangkan apapun yang sekiranya awam memerlukan tahapan-tahapan praktiknya. Sekaligus tampak ‘lebih menjual’, bagi yang sedang berjualan pil ajaib dan ramuan mujarab.

Seakan tak mau ketinggalan, banyak kanal berita media online ikut menayangkan artikel-artikel sensasional yang dicomot dari berbagai terjemahan media lain.

Tak peduli mau isinya saintifik sungguhan atau yang pseudo-sains, alias pengetahuan atau tepatnya kepercayaan akan praktik-praktik tertentu yang tidak memiliki dasar metodologi ilmiah sesungguhnya, tapi dijabarkan seakan-akan masuk akal, ilmiah, padahal sifatnya semu.

Lebih tepatnya, paham-paham yang dianut tidak memenuhi persyaratan metode ilmiah yang dapat diuji dan seringkali berbenturan dengan kesepakatan ilmiah yang umum.

Para penganut pseudosains ini dikenal galak dan gigih mempertahankan keyakinannya yang tak tergoyahkan, bahkan menuding kelompok saintifik yang sesungguhnya merupakan konspirasi yang ingin menghancurkan kebenaran.

Baca juga: Kemopreventif, Kemoterapi, Kemopaliatif: Mana yang Tepat?

Pseudosains dalam psikologi banyak dikenal antara lain soal bentuk kuku atau wajah yang dihubung-hubungkan dengan kepribadian seseorang, atau kaitan antara tanggal lahir, numerologi dengan perjalanan nasib.

Sebetulnya, pseudosains paling seru justru ada di ranah kesehatan. Mulai dari berbagai kiat diet menurut teori asam basa, golongan darah, hingga iridologi: bagaimana iris mata manusia bisa membuka rahasia semua data kesehatan orang yang bersangkutan.

Para pengikutnya, bahkan pendiri organisasi yang menyatakan diri ‘praktisi’ mati-matian berusaha membuktikan kebenaran dengan caranya masing-masing, menampik semua metodologi ilmiah, apalagi hierarki penelitian yang pada umumnya diberlakukan untuk pembuktian sains.

Namun amat disayangkan, tidak banyak jurnalis memahami perbedaan mana ilmu pengetahuan sebenarnya yang bisa dipertanggungjawabkan, dan mana pengetahuan semu yang sebetulnya jika disebarluaskan malah bisa membawa kekisruhan ketimbang manfaat.

Salah-salah mereka semakin menyebarkan ‘kepercayaan baru’ di masyarakat – dan mereduksi, mengecilkan makna kehidupan dan kesehatan yang hakiki.

Baca juga: Literasi dan Edukasi: Meminimalkan Medikalisasi

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X