DR. dr. Tan Shot Yen, M.hum
Dokter

Dokter, ahli nutrisi, magister filsafat, dan penulis buku.

Ketika Tips Kesehatan Berujung Pembodohan

Kompas.com - 30/09/2019, 17:12 WIB
Ilustrasi ThinkstockphotosIlustrasi

 

Dengan kekacauan ini, tidak sedikit orang-orang tertarik mempelajari pseudosains secara instan dan dengan kemampuan ‘marketing’ yang handal, mereka lebih sensasional menarik massa sekaligus menuai keuntungan.

Menyitir banyak masalah kesehatan yang tengah terjadi dan kian mencemaskan, mulai dari anak dengan gangguan perilaku hingga diabetes atau kanker.

Mereka yang sama sekali tidak punya pendidikan formal kesehatan tahu-tahu kursus entah di mana dan tiba-tiba memasang iklan menjadi ‘terapis’ atau ‘praktisi hidup sehat’.

Tidak mau disebut dukun, justru mereka membagikan bacaan-bacaan pseudosains – yang jika perlu dalam bahasa Inggris – dan memberi banyak ‘tips kesehatan’ yang diberi embel-embel: sangat alamiah, tidak punya efek samping.

Bahkan, jika perlu malah menjelek-jelekkan obat dokter sekalian.

Baca juga: Kasihan, Orang Sakit Bebannya Selangit

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Satu hal yang mengganggu, beberapa ilmu kesehatan yang sahih di luar kedokteran seperti akupunktur yang telah diakui oleh organisasi kesehatan dunia, WHO, justru akhirnya bisa jatuh ke dalam pseudosains jika tidak dipahami secara utuh.

Itu sebabnya jualan laris manis akupunktur kecantikan, pelangsingan, marak di mana-mana.

Bahkan, ada seorang gadis khusus minta ke akupunkturisnya ‘jarum tindik’ yang ditinggal di daun telinga, karena ia dengar dari temannya titik itu bisa ‘menekan nafsu makan’.

Tiga ratus enam puluh lima titik akupunktur, 12 meridian ditambah sekian banyak meridian istimewa yang dipelajari dalam ilmu akupunktur dan pengobatan tradisional Tiongkok, serta tata cara pemeriksaan khusus, mustahil dipahami begitu saja atau lebih sadis lagi direduksi seperti tips-tips yang beredar di dunia maya.

Berapa banyak orang menertawakan akupunktur, saat dunia maya dihebohkan dengan jurus sepuluh ujung jari ditusuk jarum pada saat orang terkena stroke.

‘Pemerkosaan’ ilmu dan penghinaan besar-besaran keluhuran pengetahuan merupakan hal yang amat tidak dapat dimaafkan, jika hanya karena satu-dua oknum mengajarkan ‘teknik praktis’ mengatasi masalah kesehatan tanpa mendalami latar belakang duduk perkara tubuh yang menderita.

Baca juga: Membiasakan yang Tidak Biasa

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.