Kompas.com - 04/10/2019, 18:07 WIB
Ilustrasi ShutterstockIlustrasi

KOMPAS.com - Anak-anak yang lahir dan tumbuh bersama teknologi, begitulah generasi Z disebut. Sering dianggap sebagai generasi paling pintar, orangtua perlu lebih jeli dalam mengenali dan mengarahkan bakat generasi ini.

Generasi Z atau disebut juga generasi Alfa merupakan mereka yang lahir tahun 1995-2010. Ciri utama generasi ini adalah memiliki akses informasi yang sangat mudah dan cepat, sehingga mendukung keberagaman bakat dan talenta yang dimiliki.

"Generasi Z dihadapkan oleh banyak pilihan dan kesempatan untuk berekspresi, namun butuh arahan yang sesuai," kata Direktur Pemasaran Penerbit Erlangga Arief Subahagiyo dalam acara Erlangga Talent Week di Jakarta (2/10).

Vera Itabiliana, psikolog anak dan remaja menyebutkan, kemajuan teknologi digital menjadi tantangan mengembangkan bakat generasi Z yang saat ini masih sangat muda.

Di sisi lain, teknologi digital sendiri sebenarnya bisa menjadi alat bantu untuk mengembangkan bakat.

"Lingkungan terdekat anak memiliki peranan penting dalam mengarahkan agar mereka dapat memanfaatkan teknologi semaksimal mungkin dalam mengembangkan bakat mereka dan menjaga keseimbangan antara aktivitas di dunia maya dan nyata," katanya.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Baca juga: Selain Jago Teknologi, Gali Bakat Lain Generasi Alfa

Talkshow Erlangga Talent Week di Jakarta (2/10).Dok Erlangga Talkshow Erlangga Talent Week di Jakarta (2/10).

Sebagai orangtua dari generasi Z, aktor Christian Sugiono menyadari putra sulungnya, Arjuna Zayan Sugiyono yang kini berusia 6 tahun, memiliki rasa ingin tahu yang besar pada segala hal.

"Apa pun dia ingin tahu, misalnya ada apa di dalam sebuah benda. Ia akan buka pakai obeng. Selalu ingin tahu cara kerja sesuatu," kata suami dari aktris Titi Kamal ini.

Christian mengatakan, ia berusaha terlibat dengan kedua anaknya, termasuk saat bermain atau menemani mereka menonton tv, sehingga anak bisa merasa dekat dan mengetahui minat dan bakat anak.

Pemain gitar band Nidji, Rama, berbagi pengalaman tentang mengasah bakat sejak dini.

"Beda dengan zaman saya dulu, kalau sekarang semua fasilitas ada, orangtua tinggal mengarahkan," kata Rama dalam acara yang sama.

Meski begitu, menurut Rama, orangtua juga perlu mengajarkan pada anak-anaknya pentingnya menyadari sebuah proses. Anak perlu diajarkan bahwa di dunia nyata tidak ada yang instan dan perlu kemauan untuk berjuang dan tak gampang putus asa.

"Dari pengalaman membangun band Nidji, prosesnya panjang. Tidak ada yang instan, semua butuh persiapan," katanya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.