Hari Pangan Sedunia, Konsumsi Makanan Sehat dan Tidak Berlebihan

Kompas.com - 17/10/2019, 12:41 WIB
Ilustrasi sayuran shutterstockIlustrasi sayuran

KOMPAS.com – Setiap tanggal 16 Oktober, dunia memperingati Hari Pangan Sedunia (World Food Day). Dalam beberapa tahun terakhir isu tentang sisa makanan yang dibuang dianggap jadi alasan moral dan teknis mengapa kelaparan dan malnutrisi sulit dihilangkan secara global.

Tema Hari Pangan Sedunia yang diangkat tahun ini adalah “Our Actions Are Our Future. Healthy Diets for a #ZeroHunger World”, atau Aksi Kita adalah Masa Depan Kita, Pola Makan Sehat untuk Dunia Tanpa Kelaparan.

Pada tahun 2011, Badan Pangan dan Pertanian (FAO) mengeluarkan laporan yang mengejutkan. Disebutkan bahwa sepertiga makanan yang diproduksi secara global tidak pernah dimakan.

Dalam 8 tahun terakhir ini belum banyak perbaikan nyata yang terlihat. Di antara tumpukan sampah, kita bisa melihat sebagian besarnya merupakan sampah makanan.

Sementara itu, data FAO terbaru menyebutkan, 820 juta orang menderita kelaparan dan lebih dari 40 juta anak-anak berusia balita mengalami kegemukan.

Temuan lainnya adalah satu dari tiga orang di dunia mengalami obesitas dan tipe malnutrisi lainnya. Jika situasinya tidak diubah, angkanya akan menjadi satu dari dua, di tahun 2025.

Secara umum FAO menekankan bahwa fakta-fakta malnutrisi itu, baik kegemukan atau kelaparan, berkaitan erat dengan pola makan yang tidak sehat. Manusia modern mengonsumsi makanan yang kurang beragam, kurang bergizi, dan tidak berimbang.

Bicara soal asupan yang tidak berimbang, selain faktor gizi, tak sedikit orang yang makan secara berlebihan dan akhirnya membuang makanan sisa yang tidak dimakan.

Baca juga: Hari Pangan Sedunia, Ini Cara Olah Makanan Agar Tetap Sehat

Economist Intelligence Unit, lembaga riset milik majalah The Economist tahun 2016 menyebutkan, Indonesia merupakan negara pembuang sampah makanan nomor dua terbesar di dunia, setelah Arab Saudi.

Satu orang Indonesia diperkirakan membuang makanan sebanyak 300 kilogram (kg) dalam setahun. Kita mungkin tidak yakin dengan angka itu. Kita bisa memperdebatkan angka ini. Anggap saja makanan yang kita buang seperenam dari itu misalnya, 50 kg per orang.

Silakan dikalikan dengan jumlah penduduk, bukankah tetap besar?

Ada banyak cara yang bisa kita lakukan sebagai individu untuk mengurangi sampah makanan. Dimulai dengan menekankan gaya hidup yang sederhana, mensyukuri berkat makanan dengan cara tidak menyia-nyiakannya.

Habiskan setiap makanan yang kita ambil dengan cara mengambil secukupnya sesuai porsi kita. Makan secukupnya bukan cuma akan berdampak positif bagi kesehatan, tapi kita juga tidak harus membuang sisa makanan di piring.  Karena apa yang kita buang bisa jadi sebenarnya merupakan hak mereka yang miskin dan kelaparan.

Baca juga: Sebabkan Obesitas, Mengapa Masih Banyak Orang Menyukai Makanan Olahan?

 

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X