Kompas.com - 22/10/2019, 16:16 WIB
Ilustrasi makanan shutterstockIlustrasi makanan
Editor Wisnubrata

KOMPAS.com - Sangat manusiawi ketika kamu merasa ingin tidur setelah makan, terlebih jika porsi yang dikonsumsi cukup besar.

Ketika pencernaan mulai bekerja, tubuh akan merasa mengantuk sehingga posisi berbaring atau tidur setelah makan sungguh menggoda. Namun jika dibiarkan, hal ini bisa menimbulkan gangguan pada pencernaan.

Apalagi ada banyak jenis makanan yang mengandung serotonin dan melatonin, hormon yang membuat seseorang mengantuk. Bahkan dalam jangka panjang, kebiasaan tidur setelah makan bisa mengganggu siklus alami tubuh.

Memang benar bahwa tidur setelah makan terasa nyaman pada awalnya. Namun ingat, proses pencernaan hanya akan bekerja optimal ketika seseorang duduk tegak sehingga jalannya makanan akan terbantu oleh gravitasi.

Tidur setelah makan tentunya mengganggu proses cerna dan menyebabkan banyak masalah lain, seperti:

1. Gastroesophageal Reflux Disease (GERD)

Penderita GERD pasti tahu betul bagaimana rasanya ketika asam lambung naik ke kerongkongan hingga menimbulkan sensasi terbakar.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Tak hanya itu, dada juga bisa terasa sesak dan muncul rasa pahit di mulut. Apabila kebiasaan tidur setelah makan dibiarkan, maka GERD bisa menjadi semakin parah.

2. Insomnia

Jika kamu berharap bisa langsung beristirahat setelah menghabiskan sepiring nasi atau makan camilan tertentu, harapan itu bisa pupus.

Contohnya kandungan kafein dalam kopi, teh, minuman bersoda, minuman berenergi, hingga cokelat bisa memicu terjadinya insomnia ketika dikonsumsi berdekatan dengan waktu tidur.

Tak hanya itu, konsumsi jenis makanan dan minuman di atas juga memperbesar keinginan untuk buang air kecil. Dalam jangka panjang, masalah yang bisa terjadi disebut disruptive nocturia yaitu keinginan untuk buang air kecil terus-menerus saat malam hari.

3. Kualitas tidur buruk

Kebiasaan tidur setelah makan juga bisa menyebabkan mimpi buruk dan merusak kualitas tidur seseorang.

Makanan berlemak dan minuman seperti kopi dan alkohol dapat membuat kamu terbangun di tengah malam bahkan mengalami mimpi buruk.

Hal ini terjadi karena makan sebelum tidur meningkatkan metabolisme tubuh. Konsekuensinya, otak menjadi lebih aktif dan memicu munculnya mimpi buruk yang terasa begitu nyata.

4. Berat badan naik

Kebiasaan tidur setelah makan yang membuat proses cerna terhambat juga dapat memicu naiknya berat badan.

Penelitian dari Nutrition Research tahun 2014 lalu menunjukkan bahwa orang dewasa yang makan larut malam berisiko mengalami kenaikan berat badan karena tingginya asupan kalori.

Masih dari penelitian serupa, di tahun 2019 ini ditemukan bahwa remaja yang kerap makan mendekati waktu tidur memiliki indeks massa tubuh lebih tinggi. Tak hanya itu, ukuran pinggul mereka pun cenderung lebih besar.

Waktu ideal makan sebelum tidur

Tidak ada yang salah dengan makan atau sekadar mengonsumsi camilan di malam hari. Hanya saja, kita perlu pintar-pintar mengatur waktunya.

Idealnya, beri jarak antara 2-3 jam sejak makan hingga waktu tidur. Ini berlaku untuk camilan juga, bukan hanya makan malam berat saja.

Jika benar-benar merasa lapar dan ingin makan saat larut malam, pilih camilan yang mudah dicerna seperti buah-buahan, makanan rendah kalori seperti edamame, dan hindari makanan berlemak.

Makanan berat seperti burger dan pizza hanya akan menambah beban kerja pencernaan kita.

Makanan menentukan kualitas tidur

Bukan hanya perkara kapan waktu yang tepat untuk makan sebelum tidur, namun jenis makanan dan minuman yang masuk ke tubuh saat larut malam juga harus jadi perhatian.

Ada beberapa makanan yang substansinya dapat mengganggu atau justru meningkatkan kualitas tidur. Meminum segelas susu hangat bagi banyak orang membuat tubuh rileks dan bisa tidur lebih lelap.

Namun makanan yang terlalu berat dan sulit dicerna membuat pencernaan harus bekerja keras dua kali lipat.

Ditambah dengan kebiasaan tidur setelah makan, yang terjadi justru rasa tidak nyaman di perut. Mengonsumsi cokelat, peppermint, dan alkohol bisa memperburuk hal tersebut.

Kamu juga bisa mempraktikkan “aturan 15 menit” saat muncul rasa ingin makan sesuatu di malam hari. Kadang, keinginan untuk makan camilan bukan kebutuhan fisik, melainkan hanya emosi dan psikis saja.

Coba minum air dan alihkan fokus dengan melakukan hal lain seperti membaca buku atau mendengarkan musik. Bisa saja, rasa ingin makan itu hanya muncul sebagai imbas emosi tertentu seperti rasa bosan, stres, atau bahkan sedih.

Jadi, jika ingin menghindari masalah pencernaan dan menjaga kualitas tidur, ada baiknya makan malam – juga camilan malam – dikonsumsi beberapa jam sebelumnya. Pasti tubuh akan berterima kasih atas kedisiplinan meninggalkan kebiasaan tidur setelah makan.

Baca juga: 6 Manfaat Jalan Kaki Setelah Makan, 15 Menit Saja Cukup

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Sumber
Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.