Agar Pertengkaran Orangtua Tak Meninggalkan Luka pada Anak

Kompas.com - 29/10/2019, 12:00 WIB
Ilustrasi ShutterstockIlustrasi

KOMPAS.com - Konflik memang bagian dari setiap hubungan antarmanusia. Jika kita sudah berkeluarga, konflik itu pun terkadang muncul di depan anak-anak.

Dulu para ahli parenting mengatakan tidak masalah orangtua bertengkar di depan anak-anak, asalkan si kecil juga melihat orangtua mereka berbaikan lagi setelahnya.

Meski begitu, studi-studi terkini menemukan hal yang berbeda. Pertengkaran dan sikap permusuhan yang dilihat anak dari orangtuanya akan menimbulkan luka, walau ayah atau ibunya sudah berbaikan lagi.

"Sebenarnya bukan sekadar pertengkaran yang berdampak buruk, tapi cara bertengkarnya. Orangtua yang setiap ada konflik sering saling berteriak berpengaruh paling besar pada perkembangannya," kata psikolog Laura Markham, Ph.D

Yang paling nyata adalah mendengar teriakan amarah ayah atau ibunya akan membuat hormon stres mereka meningkat. Bahkan, anak-anak yang tertidur dan mendengar teriakan pertengkaran orangtuanya hormon stresnya juga naik.

Dengan kata lain, pertengkaran orangtua merupakan hal yang menakutkan bagi anak-anak. Apalagi orangtua merupakan sumber rasa aman anak. Ketika ayah atau ibunya kehilangan kontrol dan saling membenci, dunia menjadi tempat yang menakutkan bagi mereka.

Menurut Markham, hormon stres yang meningkat itu bisa membuat anak merasa cemas berkepanjangan.

Efeknya mulai dari sulit tidur, rewel, dan sulit berkonsentrasi karena mereka tidak bisa mendapatkan kenyamanan dari orangtuanya untuk meredakan rasa cemasnya.

Baca juga: Tips Membesarkan Anak agar Tumbuh Bahagia

Yang terburuk adalah ketika orangtuanya saling berteriak marah, anak anak "belajar" bahwa cara orang dewasa menghadapi ketidaksesuaian pendapat adalah dengan memaki dan berteriak.

Konflik dan perbedaan pendapat memang pasti terjadi dalam keluarga, namun markham menyarankan agar ayah atau ibu menghadapinya dengan cara yang positif.

"Anak-anak justru akan banyak belajar hal positif ketika melihat perbedaan pendapat secara sehat," katanya.

Tenangkan diri sebelum berkomunikasi dengan pasangan tentang suatu perbedaan. Hindari kalimat-kalimat yang merendahkan atau menyalahkan yang kelak akan kita sesali di kemudian hari.

Untuk perbedaan pendapat yang besar, bicarakan di luar rumah tanpa kehadiran anak-anak. Jika perlu, minta bantuan konselor pernikahan sehingga kedua belah pihak dapat melihat masalah dengan jernih.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X