BrandzView
Konten ini merupakan kerjasama Kompas.com dengan Prodia

Terkuak Cara Baru Deteksi Penyakit Kanker

Kompas.com - 30/10/2019, 18:03 WIB
pita merah mudah sebagai simbol kanker payudara Pixabay/marijana1pita merah mudah sebagai simbol kanker payudara

 

KOMPAS.com - Senyum Milly perlahan luntur saat dokter Butala menjelaskan hasil pemeriksaan kesehatannya. Matanya pun mulai berkaca-kaca. Beberapa kali ia terlihat menarik napas panjang untuk menenangkan diri.

"Jadi hasil biopsi benjolan payudara Milly menunjukkan bahwa benjolan itu ganas. Sekarang kami perlu menjalankan pemeriksaan lebih lanjut, yaitu Computed Tomography (CT) scan dada, perut, dan panggul untuk melihat apakah itu menyebar. Kami juga akan melihat kelenjar getah beningmu. Namun untuk saat ini, yang bisa kami lakukan adalah merencanakan kemoterapi rutin," kata dokter Butala.

Bak petir di siang bolong, vonis dokter tersebut membuat Milly terkejut bukan main. Ia tak menyangka dirinya bisa terkena kanker payudara.

Namun, mau tak mau wanita yang juga ibu dua anak tersebut harus menerima keadaan dan meyakinkan dirinya bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Ya, semua baik-baik saja karena cerita di atas hanyalah penggalan adegan dalam film drama Miss You Already yang tayang perdana pada 2015 lalu.

Dibintangi sederet bintang Toni Collete yang berperan sebagai Milly dan Drew Barrymore sebagai Jess, sahabat Milly, film bertemakan persahabatan ini sepertinya layak Anda tonton.

ilustrasi pemberitaan kankerPixabay/PDPics ilustrasi pemberitaan kanker

Sekilas tentang kanker

Apa yang dialami Milly di film Miss You Already ternyata juga di alami banyak orang di kehidupan sehari-hari. Tak heran jika ini menarik minat pembuat film untuk mengangkat kisah kehidupan para pasien kanker dalam layar kaca.

Lalu apa sebenarnya kanker ?

Kanker adalah penyakit akibat pertumbuhan sel abnormal yang tidak terkendali pada bagian tubuh tertentu. Sel-sel tersebut kemudian membentuk massa jaringan atau biasa disebut tumor.

Kompas.com, Sabtu (7/9/2019) menyebutkan, tumor jinak hanya terjadi pada bagian tubuh tertentu dan tidak menyebar ke organ tubuh lain. Sebaliknya, bila menyebar maka tumor tersebut termasuk ganas. Inilah yang disebut kanker.

Penyakit kanker ada yang bisa disembuhkan, ada pula yang tidak alias berujung maut. Data GLOBOCAN 2018 menyebutkan, kematian akibat kanker di seluruh dunia mencapai 9,6 juta kasus. Di Indonesia jumlahnya lebih dari 200.000 dari total 348.809 kasus.

Untuk jenisnya, kanker payudara, kanker mulut rahim, kanker paru-paru, kanker kolorektal, dan kanker hati adalah yang paling banyak diderita penduduk Tanah Air.

Pemicu kanker dan pencegahannya

Menyadur Kompas.com, Senin (19/2/2019), proses terjadinya kanker amat kompleks dan bersifat molekuler (menyambung). Akan tetapi, secara umum risiko terpapar kanker dipicu dari faktor gaya hidup, lingkungan, dan genetik.

Untuk faktor gaya hidup ditentukan dari kebiasaan merokok, konsumsi alkohol berlebih, pola makan tidak sehat, dan pola diet yang tidak sesuai. Sementara itu, pada lingkungan penyebabnya adalah paparan senyawa karsinogen (zat pemicu kanker).

Adapun zat-zat karsinogen terdiri dari tar, rodon, karbon monoksida, formaldehid, benzene, arsenic, asbestos, aflatoxin, dioksin, mercury, karbon monoksida (CO), dan lain sebagainya.

Biasanya, senyawa-senyawa tersebut dihasilkan dari asap rokok, asap kendaraan bermotor, dan asap pembakaran sampah plastik.

Sementara itu, untuk faktor genetik dapat dilihat dari riwayat anggota keluarga. Aspek ini sifatnya tidak dapat diubah alias bawaan.

Oleh karena itu, deteksi sedini mungkin perlu dilakukan untuk mengetahui ada atau tidaknya potensi risiko bawaan seseorang terhadap penyakit tertentu.

Lagi pula, dengan deteksi di awal, seseorang dapat menghindari faktor risiko lainnya yang telah disebutkan di atas.

Kendati dianggap mematikan, berkat kemajuan ilmu kesehatan, pengobatan kanker sudah semakin maju. Dengan begitu, harapan akan kesembuhan dari penyakit ini semakin meningkat.

Salah satu cara mendeteksi risiko kanker adalah lewat pemeriksaan berbasis genetik, yaitu Cancer Risk (CArisk).

Pemeriksaan CArisk mampu mendeteksi risiko genetik untuk 13 jenis kanker yang umum terjadi di Indonesia, seperti kanker payudara, kanker serviks, kanker kolorektal, dan kanker lambung.

Selanjutnya kanker hati, kanker paru, kanker pankreas, kanker prostat, kanker kantung kemih, kanker ovarium, kanker nasofaring, kanker tiroid dan kanker getah bening.

Lewat pemeriksaan tersebut, Anda bisa mengetahui risiko penyakit kanker yang diturunkan melalui gen atau akibat dari pola hidup yang tidak sehat.

Selain mendeteksi risiko kanker, CArisk juga memberikan informasi terkait rekomendasi pola diet, pola hidup dan pemeriksaan kesehatan yang dapat dilakukan untuk pencegahan kanker.

Untuk dapat melakukan pemeriksaan CArisk, Anda bisa mengunjungi laboratorium seperti Prodia.

Sebagai wujud kepedulian dalam meningkatkan kesehatan masyarakat di Hari Kesehatan Nasional, Laboratorium Klinik Prodia memberikan keringanan biaya 20 persen pada tanggal 5-7 November 2019.

Keringanan tersebut juga berlaku di Prodia Health Care, Prodia Children’s Health Centre, Prodia Women’s Health Centre, Prodia Senior Health Centre serta untuk pemesanan melalui e-Prodia (Pesan Online Prodia).

Informasi lebih lanjut kunjungi www.prodia.co.id atau hubungi Kontak Prodia di 1500 830. Jadi sebelum terlambat, mari deteksi kanker sedini mungkin.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya