Kesehatan atau Hiburan: Lebih Murah Mana?

Kompas.com - 03/11/2019, 12:15 WIB
Ilustrasi makanan tinggi kolesterol shutterstockIlustrasi makanan tinggi kolesterol

KOMPAS.com - Tulisan ini dibuat bukan untuk membahas soal iuran BPJS yang akan melonjak dua kali lipat mulai tahun depan - yang menuai kontroversi, karena dijadikan kewajiban bagi seluruh WNI – sebab jika tidak ikut sebagai peserta atau menunggak, maka ada ancaman tak akan dapat mengurus SIM hingga paspor.

Yang menarik untuk dibahas bukan soal itu, melainkan tentang cara pandang publik Indonesia akan kesehatan yang kelihatannya belum beringsut apalagi berubah sejak zaman kemerdekaan.

Saat keluhan sakit belum muncul, sebagian besar orang Indonesia mengatakan dirinya ‘sehat’.

Begitu pula ibu hamil, selama tidak muntah berlebihan, tidak pingsan, tidak ada bercak darah yang keluar, dianggap ‘sehat-sehat saja’ tanpa harus memeriksakan kandungannya.

Bahkan kaki bengkak pada masa kehamilan, dianggap sebagai fenomena wajar – sampai menjelang masa persalinan baru ketahuan bahwa sang ibu menderita pre eklampsia dengan tekanan darah tidak terkontrol.

Baca juga: Kasihan, Orang Sakit Bebannya Selangit

Kita belum sampai pada kebiasaan ‘sedia payung sebelum hujan’ untuk urusan kesehatan. Paling-paling menyiapkan kotak P3K berisi obat pusing, flu, diare, beberapa jenis salep dan plester, perban serta antiseptik buat luka ringan.

Pola pikir seperti ini bukan hanya pada level rumah tangga, juga masih dianut petinggi beberapa perusahaan yang sudah punya klinik dengan perawat dan dokter.

Tenaga kesehatan di korporasi kerap terjepit antara kepentingan pemilik usaha yang ingin sebisa mungkin menghemat biaya kesehatan karyawan, sementara karyawannya menganut faham ‘aji mumpung’ berobat gratis dibayari tempatnya bekerja.

Beberapa kali saya diundang untuk mengisi seminar di korporasi yang bermaksud hendak meningkatkan kesadaran hidup sehat mulai dari jajaran direksi, staf hingga karyawan lepas.

Anehnya, kebanyakan orang berpikir, hanya dengan mendengar seminar satu kali lalu seakan-akan pesertanya semua tersadarkan dan langsung pulang ke rumah masak makanan sehat dan mulai berolahraga.

Padahal, makan siang yang dihidangkan sehabis seminar saja masih jauh dari kata sehat.

Baca juga: Bhineka Literasi Nutrisi Jadi Ancaman Integrasi

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X