Kompas.com - 03/11/2019, 21:39 WIB
Ilustrasi sakit perut shutterstockIlustrasi sakit perut

KOMPAS.com - Keracunan makanan tampak mudah diatasi. Tapi, jika tak ditangani dengan baik, bisa berisiko pada kematian.

Seseorang bisa keracunan makanan, karena mengonsumsi makanan yang telah terkontaminasi. Dalam banyak kasus, keracunan makanan disebabkan oleh makanan yang terkontaminasi bakteri seperti salmonella atau Escherichia coli (E. coli), atau bisa juga virus seperti norovirus.

Gejala keracunan makanan biasanya dimulai dalam waktu satu sampai dua hari setelah mengonsumsi makanan yang terkontaminasi.

Tapi, ada juga gejala yang muncul sesaat setelah makan atau dalam waktu beberapa jam setelah makan. Berikut gejala utama keracunan makanan yang bisa muncul:

1. Perut sakit dan mual

2. Muntah

3. Kram perut

4. Diare, bisa jadi disertai darah atau lendir

5. Demam

6. Kehilangan tenaga dan tbuh terasa lemas

7. Kehilangan selera makan

8. Otot tubuh terasa nyeri

9. Tubuh terasa panas dingin

Umumnya, gejala-gejala tersebut akan berlalu dalam beberapa hari dan tubuh akan pulih sepenuhnya.

Baca juga: Tips Mencegah dan Mengobati Keracunan Makanan

Makanan dapat terkontaminasi selama produksi, pengolahan atau selama proses memasak. Misalnya ketika tidak memasak daging secara menyeluruh dan matang, tidak menyimpan makanan yang mudah busuk di bawah suhu lima derajat Celcius, menyentuh makanan dengan tangan kotor, atau mengonsumsi makanan kedaluwarsa.

Apa yang harus dilakukan jika keracunan makanan?

Kebanyakan orang yang keracunan makanan akan pulih dengan sendirinya dan tidak memerlukan pengobatan khusus. Berikut yang bisa dilakukan selama masa penyembuhan:

1. Beristirahat dan minum banyak cairan untuk mencegah dehidrasi.

2. Jika terlalu mual, cobalah makan dalam porsi kecil tapi sering.

3. Minum larutan elektrolit atau larutan gula garam.

Kapan harus pergi ke dokter?

1. Gejala keracunan makanan bertambah parah

2. Gejala tidak membaik setelah beberapa hari

3. Terjadi gejala dehidrasi berat, seperti kebingungan, detak jantung yang cepat, mata cekung dan tidak berkemih atau urin sangat sedikit.

4. Dalam kondisi hamil

5. Usia lebih dari 60 tahun

6. Keracunan terjadi pada bayi atau anak-anak

7. Memiliki penyakit tertentu seperti penyakit inflamasi usus (IBD), penyakit katup jantung, diabetes atau penyakit ginjal.

8. Memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah - misalnya, karena pengobatan kanker atau HIV.

Baca juga: Bakteri di Dalam Mobil, Bisa Sebabkan Infeksi hingga Keracunan Makanan



Sumber NHS
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X