Kompas.com - 05/11/2019, 08:08 WIB
Ilustrasi protein piyasetIlustrasi protein
|
Editor Wisnubrata

JAKARTA, KOMPAS.com - Protein menjadi satu makronutrien penting yang dibutuhkan tubuh dalam jumlah cukup besar. Kita membutuhkan 10 hingga 35 persen protein dari total konsumsi harian.

Ketika kebutuhan protein berkualitas tercukupi sesuai kebutuhan, tubuh akan tumbuh secara optimal, mineralisasi tulang akan maksimal, otot terpelihara, dan lainnya.

Bagi anak, kecukupan protein berkualitas juga berdampak pada pertumbuhan.

"Di Indonesia, (memenuhi) 10 sampai 15 persen protein sudah bagus. 35 persen masih aman tapi harus dihitung antara bayi, anak dan dewasa berapa maksimal protein yang masuk."

Hal itu diungkapkan oleh Pakar gizi dari Universitas Indonesia Prof. Dr. dr. Saptawati Bardosono, M.Sc pada acara media workshop di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (4/11/2019).

Mendiskusikan soal perlunya asupan protein berkualitas yang cukup, sudah sering dilakukan. Namun, tahukah kamu bahwa asupan protein berlebih juga tidak dianjurkan?

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Kasus ini rupanya cukup banyak terjadi di Indonesia, umumnya pada orang dewasa. Saptawati menjelaskan, kelebihan asupan protein akan membuat kerja organ tubuh berlebihan sehingga memicu terjadinya gangguan fungsi.

Baca juga: 7 Bahan Makanan dengan Protein Terbaik untuk Pangkas Berat Badan

Beberapa gejala dan dampaknya antara lain:

  • Rasa tidak nyaman atau mual di perut karena terlalu banyak mencerna protein. Hal ini paling terasa pada organ lambung.
  • Asam amino dari protein yang sudah diserap oleh usus akan didistribusikan ke seluruh tubuh oleh hati. Ketika asupan protein berlebih, hati akan kerepotan sehingga sel-selnya bekerja terlalu berat dan lama-lama akan rusak. Pada akhirnya, fungsi hati akan terganggu.
  • Sisa-sisa protein akan dibuang melalui ginjal. Namun, asupan protein berlebih akan membuat ginjal kesulitan menyaringnya. Pada akhirnya saringan pada ginjal akan bocor dan membuat protein keluar melalui kencing.

Warna air seni pun bisa berubah menjadi keruh karena protein. "Seharusnya kencing itu tidak ada protein. Lama-lama, bahkan enggak usah kebanyakan protein, semua protein juga akan bocor karena ginjal sudah bocor," tuturnya.

Baca juga: Yuk, Menakar Jumlah Kebutuhan Protein Harian untuk Tubuh

Agar tak kelebihan protein

Pastikan asupan protein sesuai kebutuhan tubuh. Jika rata-rata kebutuhan kalori harian adalah 2000 KKal, maka usahakan mengonsumsi protein minimal 10 persennya atau sekitar 200 kalori.

Jika dikonversikan maka menjadi sekitar 50 gram (protein per gram menghasilkan 4 kalori).

"Itu diterjemahkan, misalnya dengan konsumsi daging berapa gram, dari susu berapa," kata Saptawati.

Jangan lupa pula untuk memilih sumber-sumber protein berkualitas. Piramida gizi seimbang bisa menjadi acuan. Beberapa sumber protein yang baik dikonsumsi antara lain daging tanpa lemak, ikan, makanan laut, telur, daging, unggas, kacang-kacangan, hingga susu.

Baca juga: Bau Mulut hingga Sembelit, Ini 6 Akibat Kebanyakan Protein



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.