Mengolah Sampah di Jatim, Recycle hingga Jadi Alat Pembayaran Naik Bus

Kompas.com - 12/11/2019, 10:24 WIB
ilustrasi sampah plastik PIXABAY/MatthewGollopilustrasi sampah plastik
Editor Wisnubrata

JAKARTA, KOMPAS.com - Warga di Indonesia semakin bertambah, sehingga tingkat konsumsi terhadap produk juga semakin tinggi. Tingginya tingkat konsumsi itu menyebabkan sampah semakin banyak pula, salah satu bentuknya adalah sampah kemasan.

Banyak upaya yang dilakukan untuk mengurangi dan mengolah sampah kemasan. Mulai dari mengurangi penggunaan kemasan sekali pakai hingga mendaur ulang sampah. Nah, inovasi yang dilakukan Pemerintah Provinsi Jawa Timur layak menjadi cerita.

Menurut Dr. Ir. Dyah Ermawati, Kepala Biro Perekonomian Provinsi Jawa Timur, pemerintah setempat menangani sampah dari hal paling sederhana sekaligus paling berpengaruh, yakni mengubah paradigma masyarakat.

Pada tahun 2008, orang akan membuang seluruh sampah di TPA. Tidak ada pemikiran memilah, apalagi mendaur ulang. Namun seiring berubahnya zaman, paradigma pun harus diubah.

"Sampah di Indonesia semakin banyak, sehingga kita tidak dapat mengandalkan TPA. Maka dari itu, paradigma membuang sampah ke TPA kita ubah menjadi 3R (reduce, recycle, recovery)," ucap Dr. Ir. Dyah ketika memberi penjelasan di acara Accelerating Circular Economy In Post-Consumer Packaging, Senin (11/11/2019).

Saat proses 3R diterapkan, maka sampah yang dikirim ke TPA pun mulai berkurang. Pasalnya, banyak orang mengubah sampah organik menjadi pupuk, dan sampah plastik berkurang karena pemakaian kemasan dan kantong plastik juga berkurang.

Selain mengubah paradigma, Pemerintah Provinsi Jawa Timur juga berinovasi dalam berbagai kegiatan, seperti bank sampah.

"Setiap kabupaten dan kota di daerah Jawa Timur sudah memiliki bank sampah. Sehingga, setiap rumah tangga sudah memilah sampah dan akan menyerahkan ke bank sampah," ungkap Dyah.

Selain itu, ada perlombaan pengolahan sampah yang diselenggarakan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Sehingga, banyak orang berlomba mengkreasikan sampah mereka. Selain mungkin mendapat hadiah bila menang, hasil kreasi daur ulang itu bisa digunakan sendiri, bahkan dijual.

Inovasi unik lain yang dilakukan Pemprov Jawa Timur, adalah ongkos naik bus yang bisa dibayar dengan botol plastik. "Masyarakat membayar dengan tiga botol berukuran 600 ml atau satu botol yang berukuran 1,5 liter untuk naik bus," jelas Dyah.

Hal tersebut cukup signifikan mengurangi jumlah sampah di Jawa Timur. Nah, bayangkan jika hal-hal tersebut juga dilakukan di seluruh daerah di Indonesia, sepertinya tumpukan sampah di negara ini akan berkurang. (Devi Ari Rahmadhani)

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X