Kompas.com - 18/11/2019, 15:56 WIB
Pemeriksaan kadar gula darah di acara Posbindu di Universitas Yarsi Jakarta (14/11/2019). Kompas.com/Lusia Kus AnnaPemeriksaan kadar gula darah di acara Posbindu di Universitas Yarsi Jakarta (14/11/2019).

KOMPAS.com – Penyakit diabetes tipe dua tidak terjadi tiba-tiba. Meski penyakit ini tidak bisa disembuhkan, tetapi tubuh sudah menjadi peringatan berupa kadar gula darah di atas normal yang disebut dengan pradiabetes.

Kadar gula darah puasa di atas normal, yaitu antara 100 mg/dL sampai 125 mg/dL, merupakan tanda utama seseorang berada di fase pradiabetes. Jika gaya hidup tidak diubah lebih sehat, risiko untuk menjadi diabetes sangat besar.

Menurut penjelasan dr Dicky Levenus Taharapy, SpPD, saat berada di fase pradiabetes, seseorang tidak akan mengalami gejala gangguan kesehatan. Padahal, di dalam tubuhnya sudah terjadi kerusakan.

“Sudah terjadi penumpukan kerak di pembuluh darah, mulai hipertensi, dan sebagainya. Tapi, tidak ada gejala yang mengganggu,” kata Dicky di sela acara Hari Diabetes Dunia yang diadakan Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta dan Novo Nordisk di Universitas Yarsi Jakarta, Kamis (14/11/2019).

Ia menjelaskan, sekitar 30 persen penduduk Indonesia mengalami pradiabetes. Tanpa perubahan gaya hidup, terutama pola makan dan menambah aktivitas fisik, sekitar 25 persen pradiabetes akan menjadi diabetes.

Perubahan pola makan bisa dimulai dengan membatasi makanan tinggi gula, garam, dan lemak. Sementara itu, olahraga harus dilakukan minimal 15 menit setiap hari.

"Perubahan gaya hidup terbukti bisa menurunkan risiko diabetes sampai 25 persen, bandingkan dengan obat yang hanya 10 sampai 15 persen," katanya.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Baca juga: Seperti Apa Gaya Hidup Sehat untuk Cegah Diabetes pada Anak?

Sementara untuk olahraga, dr Rachmad Wishnu Hidayat, SpKO menyarankan jenis olahraga yang memiliki tempo cepat.

"Bukan sekadar olahraga peregangan otot, tapi harus gerakan yang aktif," kata Wishnu.

Pemeriksaan kesehatan untuk mendeteksi dini penyakit diabetes juga seharusnya rutin dilakukan minimal setahun sekali. Masyarakat juga bisa memanfaatkan layanan Pos Pembinaan Terpadu (Posbindu) yang ada di sekitar permukiman.

Dinas Kesehatan DKI Jakarta dan Novo Nordisk, melalui program Cities Changing Diabetes, melakukan kegiatan Posbindu berupa deteksi dini diabetes terhadap mahasiswa di Universitas Yarsi Jakarta.

Menurut Kepala Bidang P2P Dinkes DKI Jakarta, dr Dwi Octavia TLH, selama ini Posbindu diadakan di permukiman, kali ini sasarannya diperluas ke orang dewasa muda yang berada di perkantoran atau institusi pendidikan.

“Posbindu institusi ini adalah upaya kami menjemput masyarakat agar lebih rajin lagi melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin untuk menekan angka prevalensi diabetes di DKI Jakarta,” jelas Dwi Octavia.

Menurut data International Diabetes Federation Atlas pada tahun 2017, Indonesia adalah rumah bagi 10,3 juta orang hidup dengan diabetes. Diperkirakan jumlahnya akan meningkat sebanyak 60 persen pada tahun 2045 menjadi 16,7 juta jiwa, dan menempati peringkat ketujuh di dunia.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.