Sering Mencari Gejala Penyakit di Internet? Bisa Jadi Tanda Cyberchondria

Kompas.com - 20/11/2019, 06:15 WIB
Ilustrasi ThinkstockphotosIlustrasi

KOMPAS.com - Internet memberikan banyak manfaat, mulai dari mempercepat komunikasi, memudahkan aktivitas belanja hingga menemukan tempat baru untuk dikunjungi.

Ya harus diakui, internet memang membantu orang untuk terhubung dan mempelajari berbagai hal di mana saja dan kapan saja mereka mau.

Namun, di sisi lain, ada peningkatan masalah dengan penggunaan internet yang berlebihan. Banyak orang menjadi ketergantungan pada mesin pencari untuk mengidentifikasi kondisi kesehatan mereka.

Sebuah studi baru menunjukkan, bagaimana orang menjadi " cyberchondria." Itu berasal dari kata "hypochondria," yang dikenal sebagai kecemasan kesehatan atau kekhawatiran obsesif tentang kesehatan meskipun hanya memiliki gejala kecil, demikian menurut peneliti Jill Newby, associate professor di University of New South Wales, dan Eoin McElroy, dosen psikologi di University of Leicester di Inggris.

Baca juga: Kenali 8 Tanda Gangguan Kecemasan

Cyberchondria terjadi ketika seseorang memeroleh terlalu banyak informasi dari pencarian web tentang suatu kondisi, yang memicu kecemasan dan kepanikan.

Ini dimulai ketika kamu mencari tentang kondisi kecil yang kamu alami, seperti sering sakit kepala dan Google kemudian menampilkan cerita-cerita menakutkan yang membuat kamu berpikir bahwa kamu sakit parah.

“Algoritma pencarian web sangat misterius. Tetapi hasil pencarian teratas belum tentu merupakan penjelasan yang paling mungkin untuk gejalamu," kata Newby dan McElroy dalam sebuah artikel yang diposting di The Conversation.

"Hasil pencarian teratas sering kali hanya sebuah click bait – di mana mereka menampilkan kisah yang jarang, tetapi menarik dan mengerikan tentang penyakit tersebut (bukan hal-hal yang membosankan)."

Para peneliti mengatakan, kecemasan kesehatan dapat menyebabkan kontak yang tidak perlu dengan layanan kesehatan dan secara negatif memengaruhi fungsi seseorang sehari-hari.

Baca juga: 7 Cara Sederhana Mengatasi Stres dan Kecemasan

 

Tim ini menganalisis efek terapi online pada 41 orang dengan kecemasan kesehatan yang parah dan kelompok kontrol yang terdiri dari 41 orang sehat.

Para peserta mengambil enam terapi perilaku kognitif onlinecognitive behavioral therapy (CBT) selama lebih dari 12 minggu. Program ini bertujuan untuk membimbing orang dalam menemukan cara berpikir dan perilaku yang bermanfaat.

Para peneliti juga memberikan dukungan telepon dari seorang psikolog selama masa percobaan. Mereka kemudian menentukan bagaimana pencarian web yang berlebihan dapat memengaruhi gaya hidup peserta.

Hasil menunjukkan, bahwa CBT dapat membantu mengurangi cyberchondria. Peserta dengan kecemasan kesehatan melaporkan berkurangnya frekuensi pencarian online dan peningkatan kemampuan untuk mengontrol aktivitas pencarian mereka.

Baca juga: Remaja di Era Media Sosial Dihantui Kecemasan

Kelompok ini juga menunjukkan kemajuan dalam mengatasi kecemasan kesehatan mereka setelah terapi online.

"Temuan ini menunjukkan, jika kamu merasa cemas tentang kesehatan, kamu dapat menggunakan strategi praktis kami untuk mengurangi pencarian kecemasan tentang kegelisahan dan pencarian online berlebihan tentang kesehatan," tambah Newby dan McElroy.

Tim mencatat, bahwa mereka belum menentukan bagaimana terapi online secara langsung membantu mengurangi cyberchondria.

Baca juga: Mengenali 9 Kondisi Kecemasan akibat Media Sosial

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X