Kompas.com - 23/11/2019, 08:54 WIB
Creative & Co-Founder Tulola Jewelry, Happy Salma ketika ditemui di The Dharmawangsa Hotel, Jakarta Selatan, Jumat (22/11/2019). KOMPAS.com/Nabilla TashandraCreative & Co-Founder Tulola Jewelry, Happy Salma ketika ditemui di The Dharmawangsa Hotel, Jakarta Selatan, Jumat (22/11/2019).

"Jadi motif perhiasan yang dia pakai adalah motif yang menyampaikan bahwa dia adalah bagian dari sebuah kelompok," kata Happy.

Merayakan Nusantara

Happy menjelaskan bahwa "Nusantara" adalah mantra paling mujarab untuk mengumpulkan semua orang ke dalam satu kesatuan. Nusantara menjadi semakin relevan di masa kini, di mana kita semua memiliki keinginan untuk menyatukan seluruh komponen bangsa.

Tulola memiliki banyak kawan dengan cita-cita yang sama, yaitu menghadirkan segala hal yang lahir dari kearifan lokal dan menghargai warisan leluhur namun diinovasikan sesuai zaman.

"Melestarikan adalah mengharapkan sesuatu yang sudah lampau dan melestarikannya. Dengan kita menghidupkannya sekarang, itu akan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari," ujarnya.

Untuk itu, Tulola mengajak para "kawan nusantara" -orang-orang dengan cita-cita sama- untuk bersama merayakan nusantara.

Sebuah acara kolaborasi bertajuk "Tulola Merayakan Nusantara" digelar berkolaborasi dengan sejumlah merek dan seniman lokal yang bergerak di industri gaya hidup. Beberapa di antaranya Seven Sages, SvasLiving, Jenggala, Du'Anyam, dan lainnya.

Instalasi dari bahan eco faux karya seniman Joko Avianto turut mempercantik ruangan tempat "Tulola Merayakan Nusantara" digelar selama dua hari, 23 dan 24 November 2019 di hotel Dharmawangsa.

Instalasi kolaborasi Tulola dan Joko tersebut diberi tajuk "Kendaraan Langit". Terinspirasi dari motif tradisional Cirebon, yakni Megamendung, Joko menciptakan sebuah instalasi tiga dimensi yang meruang. Bak sebuah doa yang dibungkus anyaman ide yang mengalir tak terputus.

Seperti Megamendung, karya ini memiliki garis-garis lengkung yang mengalir secara teratur, dari paling dalam ke luar, menunjukkan gerak yang harmonis dan berirama.

Menurut Joko, karya ini berdimensi 6,2 m x 2,3 m x 3 meter.

"Saya punya konsep kendaraan langit. Seperti bagian dari imajinasi waktu kecil, setiap orang punya sisi hubungan dengan Tuhannya," kata Joko.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.