Tips Menerapkan Fesyen Berkelanjutan

Kompas.com - 23/11/2019, 15:07 WIB
Sejumlah koleksi hasil kolaborasi Danone-AQUA bersama desainer ternama seperti fbudi, Kana Goods, KresKros, Pijakbumi, hingga seniman aksesori Ika Vantiani dan Its In Your Hand Collective di panggung Jakarta Fashion Week 2020. KOMPAS.com/Nabilla TashandraSejumlah koleksi hasil kolaborasi Danone-AQUA bersama desainer ternama seperti fbudi, Kana Goods, KresKros, Pijakbumi, hingga seniman aksesori Ika Vantiani dan Its In Your Hand Collective di panggung Jakarta Fashion Week 2020.


KOMPAS.com – Gaung kampanye fesyen berkelanjutan (sustainability fashion) dalam beberapa tahun terakhir semakin kencang. Dalam kampanye ini kita diajak untuk lebih selektif membeli barang fashion untuk mengurangi limbah tekstil yang besar.

Di era fast fashion dan harga barang yang relatif murah, kita cenderung lebih sering membeli pakaian tanpa memikirkan jangka panjang waktu pemakaian barang.

Copenhagen Fashion Summit, acara bisnis dunia yang membahas isu keberlanjutan dalam fesyen melaporkan, 92 juta ton limbah busana mengalir ke tempat pembuangan sampah setiap tahun.

Fesyen berkelanjutan adalah gerakan dan proses untuk mendorong perubahan pada produk fesyen dan sistem fesyen menjadi lebih peduli pada kelestarian alam dan kesejahteraan orang-orang yang terlibat dalam proses pembuatan serta keterampilan mereka.

Sabrina Joseph, Co-founder platform HuntStreet mengatakan ada banyak cara untuk menerapkan fesyen berkelanjutan namun tetap tampil gaya.

"Kita dapat melakukan sustainanble dengan berbagai cara, seperti membeli barang preloved, menyewa pakaian dengan teman, bertukar pakaian, upcycle dari sisi pakai, atau mendaur ulang pakaian,” dalam sesi bincang acara Hunt2Save Re-Loved by HuntStreet.com x Setali, di Jakarta, Jumat (22/11).

Desainer Ikat Indonesia, Didiet Maulana menerapkan fesyen yang ramah lingkungan dengan cara memperbaharui kembali barang yang dianggap sisa atau bekas. Antara lain dengan mengurangi bahan pakaian serta mengolah kembali kain perca menjadi sesuatu yang memiliki nilai.

"Di Ikat Indonesia, kami sudah mempunyai mesin dan alat tenun bukan dari listrik dengan maksud untuk melakukan penghematan listrik," ungkapnya.

Baca juga: Mengenal Slow Fashion, Mode Berkelanjutan demi Kelestarian Bumi

 

Dari kiri ke kanan: Atta dari Greenpeace, Andien Aisyah, desainer Didiet Maulana, dan Sabrina Joseph, co-founder Huntstreet.Renna Yavin Dari kiri ke kanan: Atta dari Greenpeace, Andien Aisyah, desainer Didiet Maulana, dan Sabrina Joseph, co-founder Huntstreet.

Selain itu, dia juga lebih banyak membuat pakaian dengan model yang bisa dipakai kapan saja dengan tampilan yang tidak ketinggalan zaman.

“Di tahun 2018, IKAT membuat project untuk pelanggan yang sudah bosan dengan baju lamanya, bisa datang ke toko untuk dirombak lagi pakaiannya dengan harga tertentu," tambahnya.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X