Keluarga Malfungsi, Bangsa Malnutrisi

Kompas.com - 02/12/2019, 18:31 WIB
Ilustrasi Thinkstockphotos.comIlustrasi

Sebaliknya, dokter puskesmas yang mestinya fungsional akhirnya bermetamorfosis menjadi struktural, suntuk dibebani pekerjaan administratif, dan harus wara-wiri ke pusat untuk seribu satu pelatihan teoritis atau lokakarya bermodul-modul.

Jargon puskesmas sebagai upaya promotif dan preventif akhirnya tinggal retorika. Rakyat sudah terpola bahwa ke puskesmas itu kalau bukan untuk menjemput surat rujukan ke rumah sakit, paling hanya untuk berobat sebatas batuk pilek pusing dan diare.

Tabalong hanyalah potret kecil dari kepingan yang lebih besar: bagaimana keluarga seharusnya berfungsi sebagaimana mestinya untuk menciptakan generasi yang lebih baik.

Sayangnya, yang mestinya ‘menitipkan pesan’ soal bagaimana seharusnya hidup ini dijalankan justru tidak ada.

Generasi sebelumnya sibuk mendidik anak jadi orang pandai dan melek teknologi. Tapi tidak mempersiapkan bagaimana caranya jadi istri, suami, apalagi ibu dan ayah.

Baca juga: Teknologi: Kemajuan, Kebutuhan, Ketergantungan atau Versi Baru Penjajahan?

Dalam skala rumah tangga, bekerja dan punya pekerjaan sekadar demi uang. Uang yang didapat dianggap mampu beli apa saja. Tubuh yang sakit pun dianggap butuh uang banyak buat berobat, ketimbang bertobat untuk makan dan hidup lebih baik.

Dalam skala nasional pun kurang lebih mirip. Isunya selalu tentang uang. Dengan uang dianggap semua masalah bisa selesai.

Hutang BPJS lunas, penurunan stunting bisa digas. Kelegaan sesaat yang akan kembali berulang apabila penyebabnya belum diatasi dengan tepat.

Mungkin petinggi negri ini lupa, bahwa yang diurus adalah rakyat. Satuan organik, bukan benda mekanik. Yang inovasi dan teknologinya bukan ditempatkan pada kebutuhan hayatinya, melainkan di teknik penyampaiannya.

Anak-anak yang sulit makan atau pemilih, hampir selalu berasal dari keluarga yang tidak pernah duduk makan bersama. Saat si kecil sarapan, ayahnya sudah melesat di jalan. Ibunya pun demikian.

Ketika senja tiba, sang anak makan sambil tantrum sementara orang tuanya masih sibuk lembur atau bergelut dengan macet.

Baca juga: Apa Benar Kanker Tidak Diketahui Penyebabnya?

Disebut makan bersama apabila akhir minggu tiba. Itu pun di meja restoran – ayah dan ibu masing-masing asyik menatap ponsel berbalas pesan, sang anak terpaku di dunia dua dimensi layar animasi. Makan hanya mekanisme buka tutup mulut dan reka rasa.

Zaman dahulu, memasak dan makan bersama adalah bagian dari fungsi keluarga. Tapi, sekarang dianggap hal yang merepotkan.

Padahal, menjadi repot karena bukan lagi merupakan kebiasaan. Sebab mandi sambil keramas jauh lebih repot. Dan tidak bisa dipercepat.

Mulai dari menanggalkan pakaian hingga bersabun dan membilas sampai bersih. Itu pun paling tidak dua kali sehari.

Sedangkan menyiapkan pangan keluarga, bisa direncanakan sesuai kebutuhan mulai dari si bayi yang sudah mulai makan hingga seisi rumah.

Seminggu sekali belanja, dan masak sehari sekali. Bisa dilakukan bersama dengan penuh canda. Fungsi sehari-hari yang amat efektif mencegah malnutrisi. Tanpa perlu pusing hitung kalori.

Baca juga: Literasi dan Edukasi: Meminimalkan Medikalisasi

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X