Keluarga Malfungsi, Bangsa Malnutrisi

Kompas.com - 02/12/2019, 18:31 WIB
Ilustrasi Thinkstockphotos.comIlustrasi

KOMPAS.com - Baru saja saya kembali dari Tabalong, kabupaten dengan jarak tempuh 6 jam bermobil dari bandara Syamsudin Noor, Banjarbaru, Kalimantan Selatan.

Ngeri-ngeri sedap bagi yang tak terbiasa berkendara tanpa lampu jalan di tengah malam, memburu waktu tiba dengan kecepatan lumayan tinggi.

Kabupaten ini tidak akan familiar di telinga wisatawan, karena memang bukan destinasi wisata – karena yang paling ikonik adalah tambang batu bara terbesar di belahan bumi selatan dan ke empat terbesar di dunia.

Bukan karena diundang perusahaannya, tapi saya kebetulan digandeng dinas kesehatan yang merasa masih perlu memerbaiki status gizi masyarakat melalui tenaga kesehatan mereka yang handal.

Apa yang bisa kita temui sebetulnya tak jauh beda dengan pelosok mana pun di negri ini. Mulai dari pergeseran gaya hidup, pilihan makan hingga sederet masalah yang timbul kemudian akibat itu semua.

Baca juga: Kesehatan atau Hiburan: Lebih Murah Mana?

Desa yang justru paling menghasilkan, kaya dengan hasil bumi dan ikan – menjadi tempat dimana gizi buruk terbanyak.

Rupanya hasil bumi dan tangkapan adalah aset yang sekadar menghasilkan uang. Dengan uang yang banyak, semua bisa dibeli – termasuk apa yang dimakan – yang sudah amat berbeda dengan konsumsi generasi sebelumnya.

Jika di Papua orang berjualan pisang untuk bisa beli pisang goreng kekinian, maka desa di kabupaten Tabalong menjual ikan untuk bisa sarapan apa saja di warung setiap pagi. Karena masak sendiri itu sudah dianggap ‘merepotkan’.

Tidak semua keluarga seperti itu, tentu saja. Tapi fenomena pergeseran semakin banyak. Anak-anak dan suami menyukai soto banjar dengan ‘penyedap rasa’.

Bahkan, anak sekarang tidak lagi bisa menyebut mana kapulaga dan adas, apalagi rempah khas bernama kas kas.

Lebih menyedihkan, penjual makanan lebih bangga bisa menyajikan mantau – yang sebetulnya bakpao terigu dari peradaban pendatang. Mantau goreng pula, dengan isi daging cincang.

Baca juga: Bhineka Literasi Nutrisi Jadi Ancaman Integrasi

Rokok menjadi kebanggaan remaja untuk bisa ‘naik kelas’ disebut dewasa muda. Tidak berlebihan jika American Journal of Public Health pernah merilis studi yang menyebutkan, bahwa remaja perokok berpeluang tujuh kali lipat menjadi pemakai marijuana di kemudian hari.

Tabalong adalah kabupaten dengan pengungkapan dan penangkapan pemakai narkoba nomor 2 se-Kalimatan Selatan, dan nomer 4 tertinggi se-Indonesia.

Yang ditangkap memang tidak memiliki berkilo-kilo narkoba, hitungannya paling gram – sebab mereka bukan pengedar, tapi anak-anak muda pemakai yang dirusak pelan-pelan.

Stunting di pelosok yang rawan narkoba dan tingkat edukasinya rendah, membuat negri ini amat riskan.

Bisa jadi mereka yang terjerat narkoba adalah gambaran saat ini dari jejak stunting mereka di masa lalu.

Baca juga: Menuntut Ilmu Sampai ke Negeri China

Anak-anak stunting tidak akan mempunyai kecerdasan cukup, membuat mereka rentan di-bully dan mencari definisi ‘bangga diri’ dengan cara-cara yang tidak membanggakan.

Fakta yang terjadi di Tabalong memang demikian. Tekanan sosial dari senior, kebutuhan untuk bisa ‘dianggap sebagai bagian’ dari komunitas akhirnya membuat mereka jadi pecandu paksaan, tanpa niatan.

Lingkaran setan ini akan terus berputar dan kian mengerikan bila tidak ada upaya memutuskan rantai perjalanannya.

Yang bisa memahami di atas bukanlah ahli-ahli klinis, melainkan para pakar, pekerja yang selama ini bergerak di komunitas kesehatan masyarakat.

Ilmu yang urgent dan amat relevan saat ini adalah keterampilan berkomunikasi, mengatasi hambatan-hambatan gizi sekaligus ‘teknisi rekonstruksi sosial’ yang efektif menjadi daya dongkrak dan dorong untuk kelompok masyarakat rentan keluar dari neraka gaya hidupnya.

Upaya lintas sektoral menemui kerap menemui jalan buntu jika seorang dokter berjas putih yang sehari-hari analisanya sebatas hasil lab individu per pasien, harus bernegosiasi dengan pejabat yang bicara pendapatan daerah, peningkatan ekonomi usaha kecil, sementara cakupan ASI eksklusif rendah, Inisiasi Menyusu Dini tidak berjalan, serta ibu-ibu lebih memilih Makanan Pendamping ASI kemasan yang praktis.

Baca juga: Ketika Tips Kesehatan Berujung Pembodohan

Sebaliknya, dokter puskesmas yang mestinya fungsional akhirnya bermetamorfosis menjadi struktural, suntuk dibebani pekerjaan administratif, dan harus wara-wiri ke pusat untuk seribu satu pelatihan teoritis atau lokakarya bermodul-modul.

Jargon puskesmas sebagai upaya promotif dan preventif akhirnya tinggal retorika. Rakyat sudah terpola bahwa ke puskesmas itu kalau bukan untuk menjemput surat rujukan ke rumah sakit, paling hanya untuk berobat sebatas batuk pilek pusing dan diare.

Tabalong hanyalah potret kecil dari kepingan yang lebih besar: bagaimana keluarga seharusnya berfungsi sebagaimana mestinya untuk menciptakan generasi yang lebih baik.

Sayangnya, yang mestinya ‘menitipkan pesan’ soal bagaimana seharusnya hidup ini dijalankan justru tidak ada.

Generasi sebelumnya sibuk mendidik anak jadi orang pandai dan melek teknologi. Tapi tidak mempersiapkan bagaimana caranya jadi istri, suami, apalagi ibu dan ayah.

Baca juga: Teknologi: Kemajuan, Kebutuhan, Ketergantungan atau Versi Baru Penjajahan?

Dalam skala rumah tangga, bekerja dan punya pekerjaan sekadar demi uang. Uang yang didapat dianggap mampu beli apa saja. Tubuh yang sakit pun dianggap butuh uang banyak buat berobat, ketimbang bertobat untuk makan dan hidup lebih baik.

Dalam skala nasional pun kurang lebih mirip. Isunya selalu tentang uang. Dengan uang dianggap semua masalah bisa selesai.

Hutang BPJS lunas, penurunan stunting bisa digas. Kelegaan sesaat yang akan kembali berulang apabila penyebabnya belum diatasi dengan tepat.

Mungkin petinggi negri ini lupa, bahwa yang diurus adalah rakyat. Satuan organik, bukan benda mekanik. Yang inovasi dan teknologinya bukan ditempatkan pada kebutuhan hayatinya, melainkan di teknik penyampaiannya.

Anak-anak yang sulit makan atau pemilih, hampir selalu berasal dari keluarga yang tidak pernah duduk makan bersama. Saat si kecil sarapan, ayahnya sudah melesat di jalan. Ibunya pun demikian.

Ketika senja tiba, sang anak makan sambil tantrum sementara orang tuanya masih sibuk lembur atau bergelut dengan macet.

Baca juga: Apa Benar Kanker Tidak Diketahui Penyebabnya?

Disebut makan bersama apabila akhir minggu tiba. Itu pun di meja restoran – ayah dan ibu masing-masing asyik menatap ponsel berbalas pesan, sang anak terpaku di dunia dua dimensi layar animasi. Makan hanya mekanisme buka tutup mulut dan reka rasa.

Zaman dahulu, memasak dan makan bersama adalah bagian dari fungsi keluarga. Tapi, sekarang dianggap hal yang merepotkan.

Padahal, menjadi repot karena bukan lagi merupakan kebiasaan. Sebab mandi sambil keramas jauh lebih repot. Dan tidak bisa dipercepat.

Mulai dari menanggalkan pakaian hingga bersabun dan membilas sampai bersih. Itu pun paling tidak dua kali sehari.

Sedangkan menyiapkan pangan keluarga, bisa direncanakan sesuai kebutuhan mulai dari si bayi yang sudah mulai makan hingga seisi rumah.

Seminggu sekali belanja, dan masak sehari sekali. Bisa dilakukan bersama dengan penuh canda. Fungsi sehari-hari yang amat efektif mencegah malnutrisi. Tanpa perlu pusing hitung kalori.

Baca juga: Literasi dan Edukasi: Meminimalkan Medikalisasi

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X