Kiat Ayudia Bing Slamet dan Keluarga Kurangi Limbah Pakaian

Kompas.com - 08/12/2019, 09:00 WIB
Ayudia Bing Slamet bersama sang suami Muhammad Pradana Budiarto saat berada di kawasan Gandaria, Jakarta Selatan, Jumat (6/12/2019) KOMPAS.com/MELVINA TIONARDUSAyudia Bing Slamet bersama sang suami Muhammad Pradana Budiarto saat berada di kawasan Gandaria, Jakarta Selatan, Jumat (6/12/2019)

KOMPAS.com - Limbah pakaian menjadi salah satu permasalahan dunia saat ini, tak terkecuali di Indonesia.

Banyaknya pakaian yang dibuang dan tidak digunakan lagi bisa menambah beban tempat pembuangan akhir (TPA).

Ketika bercampur dengan kategori-kategori sampah lainnya, limbah pakaian akan semakin berkontribusi terhadap penuhnya TPA.

Kita bisa mulai dari diri sendiri untuk turut mengurangi limbah pakaian.

Hal itu juga diterapkan oleh aktris dan pemain sinetron Ayudia Bing Slamet bersama keluarga kecilnya.

Secara rutin, Ayu melakukan perbaharuan isi lemari di rumahnya ketika sudah penuh.

Baca juga: Kurangi Limbah Pakaian Mulai dari Lemari Pakaian Sendiri

Baju baru akan disimpan, baju lama akan didonasikan atau "disingkirikan" jika kondisinya sudah tidak layak pakai.

Sementara baju putra sulungnya, Dia Sekala Bumi, biasanya tidak lagi digunakan karena sudah tidak muat.

"Apalagi Sekala bajunya gonta-ganti mulu karena umur bertambah, baju yang enggak muat juga bertambah."

Demikian diungkapkan Ayu ketika menghadiri konferensi pers kolaborasi # PerfectDuoPeduli Electrolux dan Attack di Gandaria City Mall, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Ketika ditanya seberapa rutin Ayu dan keluara memerbaharui isi lemari, perempuan kelahiran 13 September 1990 itu mengaku melakukan dengan jadwal yang tidak rutin.

"Bisa setiap 3-6 bulan sekali," kata dia.

Baca juga: Tips Memilih Pakaian Olahraga untuk Wanita Berhijab

"Baju tertentu yang kebutuhan kerjaan 4-5 kali pakai atau kalau yang sudah aku enggak mungkin pakai aku sumbangin, karena sekarang aku kan sudah tertutup," ucapnya.

Beberapa baju yang sudah benar-benar tidak layak pakai, misalnya bolong dan sobek akan dibuang.

Meski begitu, Ayu tetap merasa bersalah karena harus membuang pakaian.

Oleh karena itu, beberapa pakaian bekasnya yang sudah bolong pernah ia buat menjadi sebuah kerajinan tangan yang dipanjang di dinding kantornya.

"Jadi bahwa pakaian enggak sesederhana itu dan kita bisa jadi agen-agen supaya lebih peduli lingkungn dan bermanfaat bagi orang-orang," cetusnya.

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X