Kisah Sepatu Clarks, Berawal dari Selop Berbahan Kulit Sisa

Kompas.com - 18/12/2019, 10:12 WIB
Clarks desert boots Kompas.com/Glori WadriyantoClarks desert boots
Editor Wisnubrata

SINGAPURA, KOMPAS.com - Sore itu, dalam gedung yang dibasahi gerimis, seorang pemuda bernama Dave Tai memandang mesin ketik kuno di hadapannya sambil merenung. Ia menengadah sebentar melihat sekeliling, lalu memainkan jari-jarinya untuk menuliskan puisi pendek ala Jepang, haiku.

Dave membuat haiku untuk setiap orang yang memintanya. Ia menanyakan nama, hobi, atau hal-hal yang menginspirasi orang di hadapannya, lalu merangkai jawaban-jawaban itu menjadi puisi sederhana yang indah dan penuh arti.

Dave menggubah puisi-puisi tersebut dalam acara preview koleksi Spring Summer 2020 sepatu Clarks di Singapura. Yang dilakukannya, entah sengaja atau tidak, menggambarkan filosofi Clarks.

Mesin ketik kuno yang digunakan, puisi yang simpel, kata-kata yang indah dan personal bagi setiap orang, seolah mewakili sepatu Clarks yang klasik, simpel, indah, dan cocok digunakan semua orang dengan kepribadian masing-masing.

Dave Tai dengan mesin ketik kuno sedang menulis haikuKOMPAS.com/Wisnubrata Dave Tai dengan mesin ketik kuno sedang menulis haiku
"Sejak berdiri hampir 200 tahun lalu, Clarks tidak berhenti menyempurnakan pembuatan sepatunya agar tidak ketinggaan jaman namun tetap nyaman dipakai,"ujar Vivien Goh, direktur komersial Clarks Asia Tenggara, Rabu (11/12/2019) di Singapura.

Dan tahukah kamu, inovasi ternyata bukan barang baru di Clarks. Brand asal Somerset, Inggris ini adalah yang pertama kali membuat sepatu sesuai bentuk kaki. Awalnya sepatu-sepatu yang ada, tidak mempunyai lekuk menyerupai kaki, jadi lempeng saja.

Clarks juga yang pertama memperkenalkan bantalan dalam sepatu agar nyaman dipakai, jauh sebelum brand-brand sneakers masa kini lahir.

Kelahiran Clarks

Brown Peters, sepatu pertama Clarkspinterest Brown Peters, sepatu pertama Clarks
Cerita Clarks sendiri berawal dari tahun 1821 saat Cyrus Clarks bersama sepupunya membuat usaha penyamakan kulit dan menjual kulit hewan serta wool dari domba di Somerset, Inggris.

Tahun 1825, Cyrus lepas kongsi dan membuat usaha sendiri yaitu menjual karpet kulit domba dan membuka toko di High Street. Karpet yang dijualnya memberi kehangatan di kaki karena masih dilengkapi bulu-bulu domba.

Tiga tahun kemudian, Cyrus mengajak adiknya yang paling muda, James, untuk magang di sana sekaligus membantunya. Saat bekerja di sana, James menyadari banyak potongan kulit sisa pembuatan karpet yang dibuang begitu saja.

Ia kemudian memiliki ide untuk memanfaatkan kulit sisa tersebut. James pun merancang sepatu sederhana seperti selop, menggunakan kulit domba sisa itu.

Ia mengajari para pegawai untuk membuatnya, lalu para pegawai itu dibekali kulit sisa untuk membuat selop di rumah. Bila sudah jadi, James akan membayarnya.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X