Kompas.com - 21/12/2019, 19:06 WIB
 Dr. dr. Rinawati Rohsiswatmo, Sp.A(K) pada acara perayaan ulang tahun ke-100 RSCM di Istora Senayan, Jakarta Pusat, Sabtu (21/12/2019). KOMPAS.com/Nabilla Tashandra Dr. dr. Rinawati Rohsiswatmo, Sp.A(K) pada acara perayaan ulang tahun ke-100 RSCM di Istora Senayan, Jakarta Pusat, Sabtu (21/12/2019).

KOMPAS.com - Bayi prematur memiliki risiko tinggi mengalami kondisi yang disebut Retinopathy of Prematurity (ROP).

Setidaknya, berdasarkan data Komunitas Premature Indonesia, pada 2015 terdapat 157 kasus ROP, 163 kasus pada 2016, 106 kasus pada 2017, 103 kasus pada 2018, dan 93 kasus per 20 Desember 2019.

Dr. dr. Rinawati Rohsiswatmo, Sp.A(K) menjelaskan, kondisi ini bisa terjadi pada semua bayi prematur.

Bahkan, semakin meningkat risikonya pada bayi prematur kelahiran di bawah usia kehamilan 32 minggu, dan berat lahir di bawah 1.500 gram.

Baca juga: Seri Baru Jadi Ortu: Tips Merawat Bayi Prematur agar Tumbuh Optimal

"Jadi, pembuluh darah di retina atau tempat syaraf itu kan sangat rapuh. Kalau kena oksigen bisa infeksi, tranfusi berulang bisa rusak. Kalau rusak harus cepat diketahui dan diobati."

Hal itu diungkapkan Rinawati dalam sebuah talkshow pada perayaan ulang tahun ke-100 RSCM di Istora Senayan, Jakarta, Sabtu (21/12/2019).

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Jika pemeriksaan tidak segera dilakukan, dan terjadi kondisi ROP yang memburuk, maka kebutaan bisa terjadi.

Saat ini, Pemerintah belum membiayai pemeriksaan ini. Namun, biaya pemeriksaan ditaksir hanya sekitar Rp 200.000.

Pemeriksaan mata idealnya dilakukan segera setelah bayi lahir, atau selambat-lambatnya sebelum bayi pulang dari rumah sakit.

Baca juga: Bayi Prematur di Denmark Dapat Terapi Boneka Gurita

Ini juga tak bisa dilakukan oleh sembarang dokter, melainkan harus oleh dokter spesialis mata dengan keahlian khusus.

Jika, rumah sakit tersebut tidak memiliki dokter yang bisa melakukan pemeriksaan ROP, maka pasien bisa dirujuk.

"Bayi prematur punya risiko untuk retinopati, kalau tidak diobati bisa buta. Tapi, tidak usah buta asalkan diperiksa dan dicegah sedini mungkin," tutur Rinawati.



Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X