Kompas.com - 06/01/2020, 22:31 WIB

KOMPAS.com - Disfungsi ereksi atau yang sering disebut impotensi, adalah kondisi yang memengaruhi 8 % pria berusia antara 20 - 29 tahun dan 11 % pria berusia 30 - 39 tahun.

Kondisi ini merupakan ketidakmampuan pria untuk mencapai atau memertahankan ereksi selama aktivitas seksual berlangsung.

Gejala disfungsi ereksi yaitu berkurangnya gairah seks, kesulitan memeroleh ereksi serta mempertahankannya.

Walau begitu, banyak mitos yang keliru seputar disfungsi ereksi dan para pria tidak menyadarinya.

Mitos: Disfungsi ereksi tidak memengaruhi pria yang lebih muda

Faktanya: Meski disfungsi ereksi lebih sering terjadi pada pria di atas 75 tahun, pria muda juga dapat mengalaminya.

Berdasarkan studi Translational Andrology and Urology, prevalensi disfungsi ereksi pada pria berusia 20 - 29 tahun adalah 8 % dan pria berusia 30 - 39 tahun sebesar 11 %.

Baca juga: Yang Perlu Dilakukan Saat Suami Disfungsi Ereksi

Mitos: Disfungsi ereksi terjadi ketika kamu tidak tertarik pada pasanganmu

Faktanya: Disfungsi ereksi adalah tanda dari kondisi kesehatan serius, seperti diabetes, masalah jantung, parkinson, multiple sclerosis, masalah hormonal, stres, kecemasan, dan depresi.

Mitos: Merokok tak menyebabkan disfungsi ereksi

Faktanya: Pria yang merokok dua kali lebih mungkin terkena disfungsi ereksi. Merokok dapat merusak pembuluh darah dan mengganggu sirkulasi darah di semua area tubuh, termasuk organ kelamin. Sehingga, sulit memertahankan ereksi.

Jadi, begitu kamu berhenti merokok, sirkulasi darah meningkat.

Baca juga: Waspadai, Disfungsi Ereksi Pengaruhi Produktivitas Kerja Pria

 

Mitos: Disfungsi ereksi tak dapat diobati

Faktanya: Berbagai pilihan perawatan tersedia untuk disfungsi ereksi. Obatnya adalah suntikan, tablet oral, atau penyisipan pelet ke dalam uretra mengandung hormon yang membantu mengendurkan otot serta meningkatkan aliran darah di penis.

Mitos: Perawatan testosteron akan menyembuhkan disfungsi ereksi

Faktanya: Kamu mungkin berpikir bahwa perawatan testosteron bisa membantu jika kamu memiliki disfungsi ereksi, tetapi sebenarnya tidak.

Testosteron adalah hormon seks pria, dan setelah usia 50 tahun tingkat testosteron menurun dan disfungsi ereksi menjadi masalah kesehatan umum.

Mitos: Bersepeda menyebabkan disfungsi ereksi

Faktanya: Bersepeda tidak menyebabkan disfungsi ereksi. Sebuah studi yang diterbitkan dalam Journal of Men's Health mensurvei lebih dari 5.000 pengendara sepeda.

Peneliti tidak menemukan kaitan antara bersepeda dan disfungsi ereksi.

Baca juga: 8 Hal Aneh Penyebab Disfungsi Ereksi

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Sumber Boldsky
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.