Studi: Menggoda Rekan Kerja Bisa Kurangi Stres

Kompas.com - 07/01/2020, 16:00 WIB
Ilustrasi ShutterstockIlustrasi

KOMPAS.com - Sebuah temuan baru menunjukkan, sedikit gurauan, pujian, atau menggoda rekan kerja saat makan siang di kantor ternyata bisa membawa manfaat untuk mengurangi stres.

Studi yang berjudul Organizational Behavior and Human Decision Processes mengamati perilaku sosial-seksual di tempat kerja seperti flanter (flirty banter) atau candaan genit di antara rekan kerja.

Namun, ada perbedaan jelas antara obrolan ringan dan tindakan pelecehan seksual yang tidak disukai.

"Sejumlah godaan banyak ditemui, dan tampaknya cukup halus," kata Sheppard, penulis studi.

"Bahkan ketika peserta penelitian kami tidak menyukainya, perbuatan menggoda itu masih belum mencapai ambang pelecehan seksual."

Peneliti dari Amerika Serikat, Kanada, dan Belanda menganalisis data dari survei yang diikuti para karyawan di AS, Kanada, dan Filipina. Survei itu diikuti ribuan partisipan, respon yang beragam dari berbagai demografi, serta dilakukan sebelum dan setelah gerakan #MeToo.

Mereka menemukan bahwa sebagian besar karyawan cukup netral dalam topik seksual seperti lelucon dan sindiran, dan banyak yang bereaksi lebih positif terhadap godaan.

Baca juga: Naksir Rekan Kerja, Lanjutkan atau Lupakan?

"Kami menemukan, ketika mereka menikmati godaan, itu dapat memberi manfaat. Orang merasa nyaman dengan diri mereka sendiri, yang kemudian akan melindungi mereka dari stres dalam hidup," ujar Sheppard.

Di dalam kuesioner, karyawan bukan hanya ditanya pengalaman mereka tentang godaan, melainkan juga apakah atasan memperlakukan mereka tidak adil.

Rupanya, menggoda rekan kerja dapat membantu mengatasi stres dan insomnia yang terkait ketidakadilan di kantor.

Namun, temuan juga mengungkap, tindakan menggoda itu positif selama hanya dilakukan kepada sesama rekan kerja, bukan kepada atasan.

Sheppard mengatakan, tempat kerja menemukan keseimbangan yang tepat, di mana perilaku sosial-seksual diperbolehkan asalkan tidak mengarah pada pelecehan seksual.

"Aturan tanpa toleransi dapat menambah rasa canggung pada hubungan persahabatan yang sudah mapan," tambah Sheppard.

"Di saat yang sama, kami tidak mendorong atasan untuk memfasilitasi perilaku ini. Atasan juga harus berhati-hati dalam melibatkan diri pada godaan, terutama dengan siapa pun di tingkat bawahan. Begitu ada ketidakseimbangan kekuatan, kamu berisiko memasuki wilayah yang mungkin dianggap sebagai pelecehan seksual."



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X