Kaitan Antara Ukuran Lidah Gemuk dan Sleep Apnea

Kompas.com - 13/01/2020, 14:56 WIB
Ilustrasi ThinkstockphotosIlustrasi

 

KOMPAS.com - Kelebihan lemak bisa menyebabkan hampir semua bagian tubuh terlihat gemuk, termasuk di bagian lidah. Jika ini terjadi, dapat memperburuk kondisi sleep apnea.

Memiliki ukuran lidah yang gemuk dapat menjadi alasan utama saat tidur kamu mendengkur, tersedak, terengah-engah atau berhenti bernapas secara berkala di malam hari. Hal itu merupakan gejala dari sleep apnea dan berpotensi mengganggu kesehatan.

"Pertanyaannya kemudian adalah, jika kamu mengurangi lemak di lidah, apakah itu memperbaiki sleep apnea? Dan jawaban dari makalah kami adalah 'ya,'" kata spesialis kesehatan tidur di Penn Medicine, Dr. Richard Schwab, penulis utama studi yang diterbitkan di American Journal of Respiratory and Critical Care Medicine.

Obesitas adalah faktor risiko utama untuk kondisi ini. Sebuah studi sebelumnya oleh Schwab dan timnya menemukan orang gemuk dengan obstructive sleep apnea memiliki lidah yang jauh lebih besar dengan persentase lemak lidah lebih tinggi daripada orang gemuk tanpa kondisi tersebut.

Baca juga: Sering Ngorok dan Mengantuk Saat Siang? Waspadai Sleep Apnea

Studi baru menemukan, kita dapat mengurangi lemak lidah saat kehilangan lemak tubuh secara keseluruhan.

"Mengurangi kelebihan lemak tubuh secara umum dapat mengurangi ukuran lidah," kata Dr Raj Dasgupta, spesialis tidur di Keck Medicine di University of Southern California, yang tidak terlibat dalam penelitian ini.

Dalam makalah baru, peneliti menggunakan pencitraan MRI untuk mengukur efek pada saluran udara atas dari penurunan berat badan sebesar 10 persen pada 67 pasien obesitas.

Ditunjukkan bahwa pengurangan lemak lidah adalah alasan utama skor sleep apnea keseluruhan meningkat sebesar 31 persen.

"Faktanya, semakin banyak lemak lidah yang hilang, semakin apnea kita membaik," kata Schwab, co-director Penn Sleep Center di Penn Medicine.

Bahaya sleep apnea bagi kesehatan sudah banyak diteliti. Misalnya saja dapat merusak materi putih otak, meningkatkan tekanan darah, berkontribusi terhadap depresi, dan meningkatkan risiko penyakit jantung, stroke, serta diabetes.

Baca juga: Lemak di Area Tubuh Mana yang Lebih Dulu Hilang?



Sumber CNN
Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X