Mengapa Kita Tak Bisa Mengingat Isi Mimpi?

Kompas.com - 15/01/2020, 07:15 WIB
Ilustrasi ShutterstockIlustrasi

KOMPAS.com - Pikiran bawah sadar yang mewujud dalam mimpi memang termasuk hal yang sulit dipahami dengan baik oleh manusia.

Ada orang yang menganggap mimpi hanyalah "bunga tidur", sedangkan yang lain meyakini ada tanda-tanda tertentu yang coba disampaikan alam lewat mimpi kita.

Walau kita pernah bangun di tengah malam, berkeringat, dan sesak napas karena mimpi dikejar penjahat, tetapi yang lebih sering terjadi saat bangun tidur kita tak bisa mengingat dengan jelas apa isi mimpi tadi malam.

Menurut para pakar kesehatan tidur, jika kita mengalami periode tidak bisa mengingat isi mimpi, itu karena kita mendapatkan fase tidur rapid eye movement (REM). Pada fase ini, aktivitas otak meningkat, denyut jantung naik, dan mata bergerak-gerak.

Mimpi terjadi akibat peningkatan aktivitas otak, tetapi otot mengalami kelumpuhan sementara yang disengaja.

Kebanyakan mimpi yang aktif terjadi saat tidur REM, lebih kurang 25 persen dari tidur malam. Tidur REM akan terjadi berulang kali sepanjang malam dan makin lama durasinya makin panjang. Durasi tidur REM terlama terjadi menjelang pagi.

Baca juga: Mimpi Berselingkuh dari Pasangan? Ini Artinya...

Jika kita terbangun bukan pada fase tidur REM (fase tidur nyenyak), maka biasanya kita akan sulit mengingat mimpi.

"Selain itu, jika saat bangun kita mengalami gangguan, misalnya ada suara telepon atau alarm, kita akan langsung lupa isi mimpi," kata peneliti bidang mimpi dari Universitas Montreal, Kanada, Tore Nielsen.

Ia menambahkan, terkadang mimpi memang tidak bisa diingat karena isi mimpinya tak ada yang istimewa.

Bila kita tak pernah ingat isi mimpi kita, atau kita sering mimpi buruk, Nielsen menyarankan agar kita memperbaiki kualitas tidur.

"Jika jam tidur kita berkurang, biasanya fase tidur REM terpanjang pada pagi hari yang dikorbankan, dan itu adalah periode saat mimpi yang intens dan lama terjadi," katanya.

Fase tidur berpengaruh

Kita pasti pernah mengalami mimpi yang terasa nyata seolah-olah itu adalah kepanjangan dari aktivitas kita. Pada waktu lain, kita mungkin cuma bisa mengingat potongan kecil dari isi mimpi.

Perbedaan jenis mimpi ini terjadi karena perbedaan siklus tidur. Fase tidur REM adalah periode mimpi yang paling panjang dan terlihat realistis. Sementara tidur non-REM kita sedang pulas-pulasnya tertidur.

Ada juga yang disebut dengan lucid dream, yaitu saat kita sadar sedang bermimpi. Mimpi lucid yang terlalu sering menunjukkan bagaimana otak kita bekerja.

"Orang yang sering mengalami lucid dream akan mengalami peningkatan sambungan fungsional antar-otak, atau sirkulasi darah yang lebih lancar ke beberapa bagian otak," kata pakar saraf Andrew Varga.

Walau kita tak bisa mengingat mimpi, bukan berarti kita tak bermimpi. Pasalnya, sangat tidak mungkin seseorang tidak mengalami fase tidur REM.

Menurut Varga, mungkin saja orang sulit bermimpi, terutama pada penderita sleep apnea yang parah karena mereka berulang kali terbangun gara-gara sesak napas akibat mendengkur.

Baca juga: 7 Mimpi Seks yang Sering Dialami dan Maknanya



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X