Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 10/02/2020, 17:44 WIB
Nabilla Tashandra,
Bestari Kumala Dewi

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Stunting atau masalah gizi kronis menjadi perhatian serius di Indonesia. Namun, masih ada kesalahpahaman di masyarakat bahwa stunting sama dengan kerdil. Padahal, keduanya tidaklah sama.

"Stunting bukan kerdil. Stunting adalah gagal tumbuh, sedangkan kerdil lebih kepada faktor biologis."

Hal itu diungkapkan oleh Outreach Coordinator 1000 Days Fund, Valerie Krisni seusai media gathering di Grand Indonesia, Jakarta Pusat, Senin (10/2/2020).

Dalam kesempatan tersebut, 1000 Days Fund sekaligus menyampaikan capaian penyebaran 12.000 poster tinggi badan ke 22 pulau di Indonesia.

Baca juga: Mengenal Stunting dan Efeknya pada Pertumbuhan Anak

Stunting didefinisikan sebagai kondisi gagal tumbuh dan ini dipengaruhi oleh beberapa faktor. Mulai dari lingkungan, kebersihan, hingga kecukupan nutrisi anak di seribu hari pertama kehidupan.

Sementara kerdil (dwarfisme) atau perawakan pendek lebih disebabkan oleh faktor keturunan atau hormon.

Pemberitaan Kompas.com edisi 18 Maret 2019 menyebutkan, anak-anak dwarfisme pada umumnya memiliki orangtua yang juga pendek.

Founder 1000 Days Fund, Simon Flint memegang Selimut Cerdas yang dibagikan kepada masyarakat dalam upaya mengurangi angka stunting.KOMPAS.com/Nabilla Tashandra Founder 1000 Days Fund, Simon Flint memegang Selimut Cerdas yang dibagikan kepada masyarakat dalam upaya mengurangi angka stunting.

Mengetahui anak stunting

Meski begitu, cara termudah mengetahui apakah seorang anak mengalami stunting adalah dengan pendekatan pengukuran tinggi.

Kepala Badan Litbang Kesehatan dari Kementerian Kesehatan, dr. Siswanto, MPH, DTM menjelaskan, seorang anak disebut stunting, jika tinggi badan anak menurut usianya minus 2 standar deviasi (-2SD).

Baca juga: Bahaya Stunting Ketika Berat Badan Bayi Terus Turun

Sedangkan cara lainnya adalah dengan pendekatan kombinasi atau mempertimbangkan pula perkembangan anak secara klinis.

Namun, cara ini dianggap lebih rumit terutama jika diterapkan di daerah-daerah.

Sehingga Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) menetapkan persentase sebagai patokan, yakni 20 persen. Sedangkan prevalensi stunting di Indonesia per Oktober 2019 berada di angka 27,67 persen.

"Sehingga kalau suatu negara stunting balitanya sudah di bawah 20 persen, berarti sudah bukan public health problem," kata Siswanto.

Stunting memengaruhi pertumbuhan otak seorang anak. Oleh karena itu, selain tinggi badan ada pula hal-hal lain yang bisa diperhatikan. Di antaranya lewat IQ point anak serta kondisi kesehatannya.

"Kalau sudah agak besar sering sakit, karena pas masa kecil organ kurang bertumbuh dengan baik, nanti pas sudah dewasa juga lebih riskan terkena penyakit yang tidak menular. Misalnya diabetes, karena ginjal tidak berfungsi dengan baik, tidak berkembang secara optimal," kata Valerie Krisni.

Baca juga: Cegah Anak Stunting, Perhatikan Gizi dan Kebersihan

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com