5 Cara Menjadi Orangtua dengan Penuh Kesadaran

Kompas.com - 11/02/2020, 12:23 WIB
Ilustrasi ShutterstockIlustrasi

“Anda bisa bertanya, 'Apa suara terjauh yang bisa kamu dengar? Apa yang dekat? Terkadang kita tidak memperhatikan hal-hal itu,” kata Race.

Atau, Anda bisa meminta si kecil menunjukkan sesuatu yang belum pernah mereka perhatikan sebelumnya.

Tujuan dari latihan ini adalah untuk memberikan waktu hadir utuh bersama. Ditambah lagi, ini akan membangkitkan rasa ingin tahu si kecil, sehingga pada saat masuk kelas mereka sudah siap untuk belajar.

2. Memberi pelukan
Latihan sederhana dan indah ini dipopulerkan oleh biksu Zen Thich Nhat Hanh. Buatlah satu moment orangtua dan anak berkumpul bersama saling berpelukan selama tiga tarikan napas.

Meski Anda bisa melakukannya kapan saja, Race mengatakan itu bisa sangat efektif ketika si kecil sedang terlihat lesu karena itu akan membantu Anda berdua untuk melewati masa-masa sulit bersama.

Baca juga: 4 Mitos Meditasi yang Tak Harus Dipercaya

"Ketika kita melakukan ini, sistem saraf menjadi tenang dan itu mengajarkan anak-anak bahwa dengan mengatur napas dapat merespons situasi sulit. Ini tidak hanya mengajarkan anak-anak cara untuk menenangkan diri, tetapi juga mengajarkan Anda cara menenangkan diri sendiri,” katanya.

3. Taruh ponsel Anda
Anda tidak bisa menjadi orangtua yang berkesadaran jika Anda terpaku pada ponsel sepanjang waktu. Anda harus menetapkan batasan. Misalnya tidak memegang ponsel sama sekali sejak anak bangun sampai berangkat sekolah atau satu jam penuh saat makan malam.

4. Sebutkan tiga hal baik setiap hari
Pada malam hari, mungkin ketika keluarga Anda berkumpul bersama di meja makan atau menemani si kecil bersiap tidur, cobalah bergiliran menyebutkan tiga pengalaman terbaik dari hari ini.

Tak perlu sesuatu yang menakjubkan, hal sederhana seperti anjing mengibas-ngibaskan ekornya ketika melihat Anda, berbagi kue dengan teman, melontarkan beberapa lelucon konyol dengan teman di sekolah. Semakin kecil dan sederhana pengalaman tersebut maka semakin baik dalam beberapa hal.

“Ketika menjadikan hal ini sebagai sebuah kebiasaan, Anda akan menjadi lebih sadar akan pengalaman positif yang terjadi. Kita jadi melatih otak untuk memperhatikan pengalaman-pengalaman yang baik,” jelas Race.

Baca juga: Memahami 3 Gaya Belajar Anak

5. Ingat: PBR.
PBR adalah kependekan dari “pause, breathe/bernapas, dan respons dengan perhatian”. Ini merupakan cara orangtua untuk mencoba tetap tenang dan sabar di tengah kemarahan atau ketidaknyamanan lainnya dari anak-anak.

“Ini memaksa Anda untuk mengambil satu atau dua napas dalam-dalam. Karena ketika stres, Anda hanya bernapas di bagian atas paru-paru. Setelah itu, Anda dapat memilih respons yang mengarah pada pilihan yang paling positif,” kata Race.

Namun, memberi respon dengan niat atau tujuan bukan berarti Anda membiarkan si kecil lolos ketika perilaku mereka tidak baik. Anda mungkin bisa tetap berwibawa atau keras, tetapi tujuannya adalah menjadi bijaksana dalam mendidik anak lebih disiplin dan menghormati orang lain.

(Renna Yavin)

 

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X