Kompas.com - 23/02/2020, 11:10 WIB
Ilustrasi ShutterstockIlustrasi

KOMPAS.com - Tahi lalat baru muncul di masa kanak-kanak dan remaja. Biasanya, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Namun, ada beberapa tanda tahi lalat balita menunjukkan melanoma.

Seiring anak tumbuh, tahi lalat juga akan membesar secara alami. Tahi lalat di kulit Si Kecil juga bisa menggelap atau menjadi lebih terang warnanya, bahkan memudar. Perubahan ini wajar dan jarang menjadi tanda melanoma, sejenis kanker kulit yang bisa berawal dari tahi lalat.

Apa Itu Melanoma?

Melanoma adalah sejenis kanker yang berawal di melanosit, sel di lapisan teratas kulit alias epidermis. Melanosit memproduksi melanin, pigmen yang menentukan warna kulit.

Pada laki-laki, melanoma paling sering muncul di badan, kepala, dan leher, sedangkan pada perempuan tampak di tungkai bagian bawah juga selain di bagian-bagian tubuh tadi.

Melanoma juga bisa berkembang di bagian tubuh lain seperti mata, mulut, kelamin, dan anus. Namun, penyakit ini jarang terjadi pada balita, termasuk di Indonesia.

Bagaimanapun juga, ada beberapa tanda tahi lalat balita harus diperiksakan ke dokter kulit. Jika diketahui sejak dini, melanoma dapat disembuhkan.

Baca juga: Kanker Anak Bisa Disembuhkan, Natarini Telah Membuktikannya

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Tanda Melanoma
Melanoma seringkali berawal sebagai tahi lalat atau benjolan di kulit. Ingat rumus ABCDE ala KidsHealth ini saat mengecek tahi lalat:

• A (asymmetry/asimetris): apakah sisi kiri dan kanan tahi lalat berbeda?

• B (border/pinggiran): apakah pinggirannya samar dan tidak jelas? Apakah tahi lalat tampak seperti melebar ke samping?

• C (color/warna): apakah tahi lalat tampak lebih gelap atau terang dari biasanya, atau apakah ada area warna baru, misalnya hitam, biru, ungu, merah, atau putih?

• D (diameter): apakah ukuran tahi lalat lebih besar daripada penghapus di ujung pensil

• E (evolving/berubah): apakah ada perubahan ukuran, bentuk, warna, atau tinggi tahi lalat?

IlustrasiShutterstock Ilustrasi

American Academy of Dermatology Association memberikan cara yang lebih mendetail untuk mengecek tahi lalat Si Kecil sebelum memutuskan pergi ke ahli dermatologi:

1. Tahi lalat berubah

Tahi lalat mengkhawatirkan jika tumbuh atau berubah dengan cepat. Begitu pula jika perubahannya membuat tahi lalat tersebut berbeda dengan tahi lalat Si Kecil yang lain. Dokter menyebutnya “ugly ducklings” atau “si itik buruk rupa”. Perubahan ini bisa jadi tanda melanoma.

2. Tahi lalat timbul, memiliki pinggiran bergerigi, atau ada warna yang berbeda
Tahi lalat yang timbul, bulat, serta berwarna pink, merah, cokelat muda, atau cokelat bisa jadi adalah Spitz nevus.

Jenis tahi lalat ini tidak berbahaya dan biasanya muncul di usia 10-20 tahun, meski kadang-kadang ada anak yang terlahir dengan Spitz nevus. Bagian yang timbul bisa jadi halus atau kasar.

Baca juga: Ahli Sebut Sejumlah Profesi Rentan Terkena Kanker Kulit

Meski Spitz nevus tidak berbahaya, tampilannya bisa sangat mirip melanoma, jenis kanker kulit yang paling serius, bahkan saat dilihat dengan mikroskop. Spitz nevus dan melanoma bisa pecah, berdarah, dan memiliki lebih dari satu warna. Namun, tahi lalat tersebut juga bisa hilang sendiri.

3. Mengeluarkan darah
Tahi lalat bisa pecah dan berdarah karena terkena sesuatu. Namun, jika tahi lalat berdarah tanpa alasan, Moms harus memeriksakannya ke dokter. Tahi lalat yang berbentuk seperti luka terbuka juga bisa jadi tanda melanoma.

4. Tahi lalat banyak
Tahi lalat yang bermunculan di masa kanak-kanak dan remaja wajarnya akan berjumlah sekitar 12-20 buah saat dewasa. Jika Si Kecil sudah memiliki lebih dari 50 tahi lalat, Moms perlu memeriksakannya ke dokter kulit.

Beberapa anak yang memiliki banyak tahi lalat menderita melanoma sejak dini. Sebuah studi di Australia menemukan bahwa lebih dari setengah pasien melanoma berusia 15-19 tahun memiliki setidaknya 100 tahi lalat.

Baca juga: Tumbuh Tahi Lalat Baru di Badan, Mungkinkah Pertanda Kanker?

5. Tahi lalat besar
Kebanyakan tahi lalat berbentuk bundar atau oval dan lebih kecil dibanding penghapus di ujung pensil.

Namun, beberapa anak memiliki tahi lalat besar, bahkan bisa berdiameter lebih dari 18 cm atau sampai menyelimuti bagian tubuh Si Kecil. Biasanya tahi lalat ini bawaan atau muncul saat Si Kecil baru lahir.

Memiliki tahi lalat besar meningkatkan risiko anak mengalami melanoma dan masalah kesehatan lain. Risiko ini lebih besar saat anak masih kecil.

Lebih dari setengah kasus melanoma yang berkembang di tahi lalat besar didiagnosis pada usia 10 tahun.

Artikel ini merupakan kerjasama Kompas.com dengan Parenting.Orami.co.id

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Sumber
Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.