Remaja Hobi Selfie, Kapan Perlu Dikhawatirkan?

Kompas.com - 25/02/2020, 10:17 WIB
Ilustrasi ShutterstockIlustrasi

KOMPAS.com – Berfoto sendiri atau selfie kini menjadi hal yang lumrah dilakukan remaja. Meski begitu, orangtua perlu mewaspadai jika anaknya itu meluangkan waktu cukup banyak untuk mengedit swafotonya sebelum diunggah ke media sosial.

Mengedit foto selfie dan sangat teliti memilih foto yang dianggap sempurna ternyata terkait dengan self-objectification atau menganggap dirinya sebagai objek. Hal ini dapat memicu body shaming (perilaku mengomentari fisik) serta membuatnya cemas akan penampilannya.

“Self-objectification merupakan pemikiran bahwa kita adalah objek eksternal untuk dilihat oleh orang lain,” kata Jennifer Stevens Aubrey yang melakukan studi ini.

Ia menambahkan, kondisi itu membuat kita selalu memikirkan apa pendapat orang lain sebelum bertindak atau mengunggah sesuatu di media sosial.

“Fokus pada berfoto selfie yang sempurna akan mendorong gadis remaja melihat diri mereka sebagai eksternal objek untuk dilihat dan dikagumi orang,” katanya.

Baca juga: Foto Selfie Membunuh Lebih Banyak Orang Ketimbang Serangan Ikan Hiu

Aubrey melakukan penelitiannya dengan menganalisa hasil studi yang melibatkan 278 gadis remaja berusia 14-17 tahun. Para responden itu mengisi survei online yang menanyakan tentang seberapa sering mereka mengunggah foto selfie dan seberapa sering memakai aplikasi edit foto, seperti membuat tubuh terlihat lebih langsing atau wajah lebih mulus.

Menurut Aubrey, remaja yang berfoto selfie tak perlu dikhawatirkan karena efek negatifnya bukan berasal dari situ. Namun, remaja yang menghabiskan banyak waktu untuk mengedit fotonya dan merasa dirinya sebagai objek, biasanya akan malu dengan penampilannya.

Rentan

Remaja perempuan memang kelompok yang rentan pada self-objectification dibanding remaja laki-laki. Selain itu, gadis remaja juga cenderung lebih sering mengalami masalah dengan citra tubuhnya. Jika dibiarkan hal ini akan memicu depresi atau gangguan makan.

“Self-objectification adalah jalur menuju banyak hal yang bisa kita cegah. Intervensi dari orangtua harus fokus pada membesarkan hati remaja untuk melihat diri mereka berharga terlepas dari apa yang orang lain lihat,” katanya.

Orangtua juga harus mewaspadai “bendera merah” jika dalam ponsel remaja ada banyak foto- foto selfie dan aplikasi mengedit foto. Jika remaja seperti terobsesi pada selfie, maka ini waktunya untuk mengajaknya bicara.

“Mendiskusikannya dengan anak sejak dini adalah cara penting untuk menghindari masalah di kemudian hari,” katanya.

Anak juga bisa diberi pengertian bahwa mengunggah foto selfie seharusnya bertujuan untuk berbagi pengalaman, misalnya saat di tempat liburan atau sedang berkegiatan dengan teman, bukan fokus pada penampilan.

Baca juga: Dapat Sebabkan Bunuh Diri, Ini Bahaya Body Shaming



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X