Kompas.com - 02/03/2020, 06:32 WIB
Pasien dengan gejala ringan virus corona COVID-19 mendapat pijatan oleh petugas medis saat menjalani perawatan di sebuah pusat pameran yang diubah menjadi rumah sakit darurat di Wuhan, Hubei, China (17/2/2020). Data hingga Rabu (19/2/2020) ini, korban meninggal akibat virus corona di China sudah mencapai 2.000 orang setelah dilaporkan 132 kasus kematian baru. AFP/STR/CHINA OUTPasien dengan gejala ringan virus corona COVID-19 mendapat pijatan oleh petugas medis saat menjalani perawatan di sebuah pusat pameran yang diubah menjadi rumah sakit darurat di Wuhan, Hubei, China (17/2/2020). Data hingga Rabu (19/2/2020) ini, korban meninggal akibat virus corona di China sudah mencapai 2.000 orang setelah dilaporkan 132 kasus kematian baru.

KOMPAS.com – Penyebaran virus Covid-19, penyebab corona, terus meluas. Walau belum ditemukan kasus positif di Indonesia, tentu kita tetap harus waspada agar tidak terjangkit oleh virus yang penularannya melalui udara dan cairan liur ini.

Infeksi virus ternyata bisa menyerang satu kelompok orang lebih berat dibanding kelompok yang lain. Misalnya saja flu tahun 1918 yang dianggap sebagai wabah terburuk dalam sejarah dengan total kematian global mencapai 50 juta. Virus penyebabnya lebih menyasar orang usia dewasa muda.

Sementara itu, wabah Zika di Brasil tahun 2015-2016 memberikan efek paling buruk pada ibu hamil dan virus ini menyerang otak janin.

Bagaimana dengan Covid-19? Infeksinya ternyata paling berbahaya jika menyerang orang yang berumur.

“Dari pengamatan kami, pada orang berusia di bawah 35 tahun hampir tidak ada. Sementara, angka kematiannya makin tinggi pada orang berusia 40-80 tahun,” kata pakar epidemiologi dari Harvard, Michael Mina PhD.

Baca juga: WHO: Risiko Penyebaran dan Dampak Covid-19 Sangat Tinggi Saat Ini

Beberapa data penelitian menunjukkan, kaum pria paling rentan tertular Covid-19. Pria yang terinfeksi virus ini juga risiko kematiannya dua kali lebih besar dibanding perempuan yang terinfeksi.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Dalam artikel di New York Times, beberapa pakar menyebutkan, pria China lebih berisiko tertular karena mereka adalah perokok. Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sekitar 47,6 persen pria di China merokok, jauh lebih besar dibanding perokok perempuan yang hanya 1,8 persen.

Daya tahan tubuh

Secara umum, perempuan juga memiliki daya tahan tubuh lebih baik dibanding kaum adam.

“Orang yang memiliki gangguan jantung, diabetes, atau penyakit paru seperti COPD juga paling rentan mengalami komplikasi dan kematian akibat infeksi Covid-19,” kata direktur Divisi Penyakit Menular di Universitas Alabama, AS, Jeanne Marrazzo.

Ia membandingkan Covid-19 dengan virus pneumonia, yang cenderung memberi dampak paling buruk pada orang yang kekebalan tubuhnya sudah rendah.

Turis yang mengenakan masker melindungi dari paparan virus corona mengunjungi Piazza San Marco, di Venesia, Italia, 24 Februari 2020. ANDREA MEROLA Turis yang mengenakan masker melindungi dari paparan virus corona mengunjungi Piazza San Marco, di Venesia, Italia, 24 Februari 2020.

Kasus penularan pada ibu hamil yang dilaporkan memang sangat kecil. Salah satu penelitian terbaru yang dimuat di jurnal The Lancet menemukan 9 orang ibu hamil yang terinfeksi, tetapi virusnya tidak ditransfer ke janinnya.

“Jumlah bayi dan anak kecil yang meninggal sangat kecil jika dibandingkan dengan orang yang terpapar,” kata Mina.

Para ilmuwan juga belum memahami mengapa anak-anak seolah terlindungi dari virus ini walau mereka sering kali jadi pembawa penyakit. Ada kemungkinan tubuh anak-anak lebih baik dalam menghadapi efek virus ini atau mereka telah memiliki imunitas sebelumnya dari ibu.

Baca juga: Meski Dinyatakan Sembuh, Virus Corona Masih Ada dalam Tubuh

Kelompok lain yang paling berisiko adalah tenaga kesehatan. Setidaknya 1.700 orang terinfeksi saat menangani pasien di China, terutama di lokasi awal wabah ini, yaitu Provinsi Hubei.

Secara umum, hampir 15 persen kasus infeksi pada tenaga kesehatan tergolong berat, bahkan kritikal. Sebanyak 5 orang meninggal, termasuk Li Wenliang, dokter berusia 34 tahun yang sejak awal mencoba memperingati bahaya virus ini.

Penelitian yang dipublikasikan di The Journal of the American Medical Association yang meneliti 45.000 kasus di China menemukan bahwa 80 persen kasus yang dilaporkan tergolong ringan.

Sisanya, 20 persen terdiagnosis memiliki gejala yang moderat, berat, bahkan kritis. Sekitar 2,3 persen dari seluruh kasus bersifat mematikan.

Penyakit severe acute respiratory syndrome (SARS), virus serupa yang juga dimulai di China tahun 2002, juga paling berat efeknya pada orang berusia di atas 60 tahun. Lebih dari 8.000 orang yang tertular virus dalam kurun waktu 8 bulan, sekitar 10 persennya meninggal dunia.

Baca juga: Dampak Virus Corona, Giorgio Armani Gelar Fashion Show Tanpa Penonton



Sumber WebMD
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X