Kompas.com - 03/03/2020, 20:58 WIB
Pasien dengan gejala ringan virus corona COVID-19 beraktivitas saat menjalani perawatan di sebuah pusat pameran yang diubah menjadi rumah sakit darurat di Wuhan, Hubei, China (17/2/2020). Data hingga Rabu (19/2/2020) ini, korban meninggal akibat virus corona di China sudah mencapai 2.000 orang setelah dilaporkan 132 kasus kematian baru. AFP/STR/CHINA OUTPasien dengan gejala ringan virus corona COVID-19 beraktivitas saat menjalani perawatan di sebuah pusat pameran yang diubah menjadi rumah sakit darurat di Wuhan, Hubei, China (17/2/2020). Data hingga Rabu (19/2/2020) ini, korban meninggal akibat virus corona di China sudah mencapai 2.000 orang setelah dilaporkan 132 kasus kematian baru.

KOMPAS.com – Tiger Ye, pemuda berusia 21 tahun yang tinggal di Wuhan mulai menunjukkan gejala infeksi Covid-19 pada pertengahan Januari. Ia membagikan pengalamannya menjalani pengobatan dan akhirnya sembuh.

Pada 17 Januari saya merasakan semua otot-otot nyeri. Mungkin pada saat itu saya demam ringan, tapi tidak terlalu diperhatikan.

Kalau melihat ke belakang, memang sedikit menakutkan, karena rumah dan sekolah tempat saya belajar bahasa Jepang hanya ada dalam radius 5 Km dari pasar seafood Wuhan (yang diyakini sebagai awal mula penularan).

Untuk mengobati nyeri otot, saya minum obat flu karena saya pikir itu flu biasa. Kini kalau dipikirkan lagi, saya sebenarnya terlambat minum obat antivirus pada tahap awal penyakit.

Saya tidak tahu dari mana bisa tertular. Saya selalu makan di restoran masakan Hongkong di kantin sekolah. Saya juga tidak banyak jalan-jalan karena pada saat itu musim dingin dan selalu langsung pulang setelah sekolah karena sudah lelah.

Pada saat libur semester, saya tinggal di rumah orangtua, bukan di asrama. Saya juga rajin pakai masker setelah semua orang di sekitar mulai memakai masker.

Baca juga: Lebih dari 50 Persen Pasien Sembuh, China Tutup 1 RS Darurat Virus Corona

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Sakit dan isolasi

Tanggal 21 Januari, saya merasa nyeri di seluruh tubuh. Saya lalu menelepon ayah dan ia langsung menjemput. Di rumah, saya mengalami demam ringan dan ibu mengatakan jika demamnya tidak turun juga akan membawa saya ke rumah sakit.

Sampai jam 11 malam, demam tidak turun juga sehingga saya berobat ke rumah sakit Tongji. Ketika tiba di sana, saya melihat rumah sakit kewalahan dengan lonjakan pasien.

Melihat dokter dan perawat dalam hazmat suit di dunia nyata untuk pertama kalinya, biasanya saya hanya lihat di film, saya menyadari bahwa ada sesuatu yang buruk sedang terjadi.

Pada saat itu sebenarnya saya tidak takut, karena rumah sakit itu yang terbaik di Wuhan dan memang selalu penuh. Karena pasien sangat ramai, saya memutuskan pindah ke rumah sakit paru Wuhan, dan keputusan ini pada akhirnya sangat tepat.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.