Seberapa Mematikan Infeksi Virus Corona?

Kompas.com - 08/03/2020, 20:28 WIB
Para pekerja medis dilengkapi pakaian pelindung memindahkan seorang pasien diduga terinfeksi virus corona (tengah) ke rumah sakit lain dari Rumah Sakit Daenam, di daerah Cheongdo, Korea Selatan, Jumat (21/2/2020). Penyebaran virus corona hingga hari ini, Senin (24/2/2020), semakin menunjukkan peningkatan di sejumlah negara, seperti Italia, Iran, dan Korea Selatan. AFP/YONHAP/SOUTH KOREA OUTPara pekerja medis dilengkapi pakaian pelindung memindahkan seorang pasien diduga terinfeksi virus corona (tengah) ke rumah sakit lain dari Rumah Sakit Daenam, di daerah Cheongdo, Korea Selatan, Jumat (21/2/2020). Penyebaran virus corona hingga hari ini, Senin (24/2/2020), semakin menunjukkan peningkatan di sejumlah negara, seperti Italia, Iran, dan Korea Selatan.

KOMPAS.com - Hanya dalam waktu dua bulan sejak ditemukan di China, virus corona menyebar ke penjuru dunia, kecuali Antartika.

Penyakit yang disebabkan oleh virus yang disebut COVID-19 itu, kini memiliki tingkat kematian lebih tinggi daripada flu.

Ya, COVID-19 memang mematikan. Namun, dilansir dari Live Science, komunitas ilmiah belum menentukan tingkat fatalitas virus corona di tengah meningkatnya jumlah pasien di banyak negara, termasuk A.S.

Baca juga: Merasa Terpapar Virus Corona, Kapan Harus ke Dokter?

Perkiraan terbaru dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan, bahwa hampir 3,4 persen pasien COVID-19 di seluruh dunia telah meninggal.

Di China, dengan 80.422 kasus yang dikonfirmasi, otoritas kesehatan mengumumkan tingkat kematian meningkat menjadi 2,3 persen.

Kebanyakan orang yang meninggal karena virus tersebut adalah pasien usia lanjut dan mereka yang memiliki masalah kesehatan yang sudah ada sebelumnya.

Orang yang terinfeksi virus corona berusia 80 tahun dan lebih tua memiliki tingkat kematian yang tinggi sebesar 14,8 persen. Sedangkan, pasien berusia antara 70 dan 79 tahun memiliki tingkat kematian 8 persen.

Baca juga: Berapa Lama Virus Corona Bisa Hidup di Permukaan Benda?

Di Italia, semua pasien yang telah meninggal karena COVID-19 berusia di atas 60 tahun. Menurut WHO, negara tersebut saat ini memiliki angka kematian tertinggi di Eropa karena virus corona, dengan 80 kematian yang tercatat.

Namun, otoritas kesehatan dan ilmuwan mencatat, bahwa jumlah infeksi dan kematian yang dilaporkan bisa jadi tidak akurat.

Selain itu juga sulit untuk menghitung kematian yang terkait dengan virus corona baru, karena bisa memakan waktu berhari-hari hingga beberapa minggu bagi pasien yang sakit parah untuk meninggal karena COVID-19.

Para peneliti mengatakan dalam sebuah laporan baru-baru ini di Swiss Medical Weekly, bahwa pihak berwenang harus menghitung angka kematian dengan membagi jumlah infeksi yang diketahui dari satu atau dua minggu sebelumnya.

Namun, masalah lain adalah bahwa ahli epidemiologi percaya jumlah total infeksi diremehkan di beberapa negara.

Hal itu karena orang dengan sedikit atau gejala ringan, mungkin tidak pernah pergi ke klinik atau rumah sakit, sehingga mereka tidak masuk dalam penghitungan.

Baca juga: Pasien Virus Corona di Spanyol Sembuh berkat Obat HIV

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X