Covid-19: Ujian Kesehatan, Kesadaran, dan Kewarasan

Kompas.com - 10/03/2020, 06:15 WIB
Sejumlah warga membeli masker dan cairan pembersih tangan (hand sanitizer) di Pasar Pramuka, Jakarta, Senin (2/3/2020). Harga masker dan hand sanitizer di sentra alat kesehatan tersebut mengalami lonjakan dari 600 persen hingga 1.400 persen akibat permintaan konsumen yang meningkat drastis setelah Presiden Joko Widodo mengumumkan dua warga Kota Depok positif terinfeksi virus corona. ANTARA FOTO/ADITYA PRADANA PUTRASejumlah warga membeli masker dan cairan pembersih tangan (hand sanitizer) di Pasar Pramuka, Jakarta, Senin (2/3/2020). Harga masker dan hand sanitizer di sentra alat kesehatan tersebut mengalami lonjakan dari 600 persen hingga 1.400 persen akibat permintaan konsumen yang meningkat drastis setelah Presiden Joko Widodo mengumumkan dua warga Kota Depok positif terinfeksi virus corona.

KOMPAS.com - Tadinya saya tidak mau dianggap latah mengungkit masalah Covid-19 – yang jika penyebarannya meledak di abad pertengahan, bisa dikira fenomena kutuk.

Tapi melihat apa yang terjadi hingga hari ini, khususnya perilaku manusia dalam mengantisipasi ancaman kesehatan dan kematian, rasanya seperti kesempatan yang sayang untuk dilewatkan.

Mendadak sontak semua orang sadar diri untuk cuci tangan lebih sering, bahkan dengan cara yang benar – padahal sudah bertahun-tahun Kementerian Kesehatan berjuang melalukan sosialisasi cuci tangan pakai sabun.

Baca juga: Tak Perlu Panik Berlebih, Simak Tips Cegah Infeksi Covid-19

Begitu pula dokter-dokter yang diwawancara sana–sini langsung hafal untuk menyebut soal pentingnya meningkatkan daya tahan tubuh dan rajin berjemur matahari.

Padahal sebelumnya, yang paling pertama disebut adalah ‘minum obat dengan teratur’.

Ada bagusnya juga sekarang kita menghadapi penyakit mengerikan yang belum ada obatnya – dan mungkin tidak akan ada, seperti virus-virus lainnya. Sehingga, preventif dan promotif menjadi tumpuan utama untuk tidak terinfeksi.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Walaupun angka kematiannya sekitar 3%, jauh lebih rendah dari kebanyakan penyakit menular lainnya, Covid-19 menimbulkan kepanikan luar biasa yang mendadak mengubah perilaku seluruh orang di dunia.

Daya tular yang tinggi, informasi simpang siur yang lebih banyak hoaks ketimbang data, serta naluri ‘untuk bertahan hidup’ membuat semua orang tiba-tiba waspada seakan bangun dari tidur lama.

Tak kalah menariknya respon sosial. Mulai dari oportunis ekonomis yang melihat peluang cari uang hingga aksi borong keperluan bertahan seakan-akan besok kiamat.

Baca juga: Seberapa Mematikan Infeksi Virus Corona?

Belajar dari fenomena Wuhan: tautan berita hingga foto-foto mencekam dari hari ke hari membuat kesadaran akan wabah muncul.

Sayangnya, informasi itu tidak diolah oleh otak depan alias neo korteks manusia untuk dijadikan peta pembelajaran sekaligus rencana tertata menghadapi bencana.

Yang ada, stimulus apa yang dilihat dan didengar langsung mengaktivasi survival brain (jika tidak mau dibilang reptilian brain), sehingga reaksi yang timbul adalah panik dan ketidakwarasan.

Jauh dari kecerdasan, apalagi bicara munculnya literasi. Mulai dari borong masker hingga menimbun sembako.

Mekanisme pertahanan diri justru membuat manusia kelihatan tidak tahu diri. Yang mestinya si sakit menggunakan masker agar tidak menulari orang melalui percikan batuk dan bersin, atau cipratan tak sengaja saat berbicara, malah yang tidak sakit ketakutan sendiri.

Mereka menggunakan berbagai versi masker yang mustahil mencegah virus, karena molekul virusnya saja jauh lebih kecil ketimbang bahan maskernya.

Baca juga: Cerita Pemuda Wuhan yang Terinfeksi Corona dan Sembuh

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.