Kompas.com - 10/03/2020, 18:05 WIB
Ilustrasi ShutterstockIlustrasi

KOMPAS.com - Sekitar 28 persen pria secara global berpendapat, cerita atau lelucon seksual dapat diterima di tempat kerja.

Angka ini naik hampir setengah dari pria di Belgia dan China, yang ditemukan sebagai negara di mana warganya paling nyaman dengan humor "kasar" di kantor.

Sebaliknya, hanya 16 persen di seluruh dunia yang merasa nyaman dengan lelucon semacam ini.

Baca juga: Hari Perempuan Internasional, Seruan Kesetaraan Gender dan Hak Asasi

Temuan ini berasal dari survei terhadap lebih dari 20.000 orang di 27 negara, yang dilakukan peneliti pasar global Ipsos Mori dan Global Institute for Women's Leadership di King's College, London.

Kuesioner global juga menemukan, 15 persen pria di seluruh dunia berpendapat, terus mengajak rekan kerja untuk berkencan bisa diterima, bahkan setelah mereka mengatakan tidak.

Lagi-lagi, seperti dikutip dari laman CNBC, hanya sembilan persen wanita yang berpikir hal ini baik-baik saja.

Cara orang memandang wanita dan pria menghadapi situasi tempat kerja yang sama juga terbukti sangat berbeda.

Baca juga: HeForShe Run 2020 Dukung Kesetaraan Gender dan Penyandang Disabilitas

Misalnya, lebih dari seperempat orang berpikir, menolak kolega yang menginginkan kencan atau hubungan romantis dapat merusak karier wanita.

Sedangkan hanya tujuh persen menganggap hal ini akan membahayakan karier pria.

Lalu, 35 persen orang berpikir memiliki tanggung jawab pengasuhan anak selama hari kerja dapat melukai karier seorang wanita, tetapi hanya delapan persen yang meyakini itu akan merusak karier pria.

Mantan Perdana Menteri Australia Julia Gillard, sekaligus ketua Global Institute for Women's Leadership mengatakan, tempat kerja adalah "medan pertempuran paling penting dalam memperjuangkan kesetaraan wanita dan pria".

Ia juga mengatakan, temuan menunjukkan masih ada beberapa cara untuk menuju tujuan kesetaraan gender.

"Meskipun mereka yang memicu lingkungan kerja beracun berada dalam minoritas, itu tetap signifikan --dan pandangan mereka dapat membuat kehidupan kerja orang-orang menjadi sengsara," kata dia.

Gillard menambahkan, pengusaha perlu berinvestasi dalam menciptakan budaya yang "menghargai keragaman dan menginspirasi rasa hormat untuk semua".



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X