Kompas.com - 12/03/2020, 12:30 WIB
Aktor Brad Pitt berpose dengan pialanya usai memenangkan penghargaan Best Actor in a Supporting Role atas film Once upon a Time...in Hollywood pada Academy Awards ke-92 atau Oscar 2020, di Dolby Theatre, Hollywood, California, Minggu (9/2/2020). Tahun ini, film Parasite berhasil memborong empat piala pada ajang bergengsi yang memberikan penghargaan bagi insan film dengan pencapaian tertinggi itu. AFP/FREDERIC J BROWNAktor Brad Pitt berpose dengan pialanya usai memenangkan penghargaan Best Actor in a Supporting Role atas film Once upon a Time...in Hollywood pada Academy Awards ke-92 atau Oscar 2020, di Dolby Theatre, Hollywood, California, Minggu (9/2/2020). Tahun ini, film Parasite berhasil memborong empat piala pada ajang bergengsi yang memberikan penghargaan bagi insan film dengan pencapaian tertinggi itu.

KOMPAS.com - Masih ingat dengan aktor Hollywood Brad Pitt, yang akhirnya menangis setelah beberapa dekade menahannya.

"Saya terkenal sebagai orang yang tidak suka menangis," kata Brad Pitt kepada laman People.

"Saya belum menangis, mungkin selama 20 tahun, dan sekarang saya menemukan diri saya pada tahap terakhir ini (bertambah usia)."

"Saya jadi jauh lebih mudah tersentuh, tergerak oleh anak-anak saya, teman teman, berita. Saya pikir itu pertanda baik," sebut dia.

Baca juga: Brad Pitt Tampil dengan Rambut Gondrong di Oscar 2020

Inspirasi dari perasaan yang dialami Brad Pitt tentu bisa terkait dengan sebuah penemuan dari penelitian terbaru yang digelar oleh Michigan State University, Amerika Serikat.

Dalam kesimpulan penelitian itu disebutkan, spirit maskulinitas yang "beracun" bisa benar benar berbahaya bagi kesehatan pria.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Di saat banyak film membuat gaya hidup macho tampak memikat, penelitian ini mengungkap temuan yang mengejutkan. 

Pria hipermaskulin dapat menderita sejumlah masalah kesehatan dan problem sosial, seiring bertambahnya usia.

"Penelitian kami menunjukkan bagaimana maskulinitas toksik memiliki konsekuensi merugikan bagi pria yang mengidam-idamkan perasaan itu."

Baca juga: Keliru Kalau Nada Suara Tinggi atau Maskulinitas Dianggap Ketegasan

Demikian kata sosiolog Michigan State University, Stef Shuster dalam sebuah pernyataan yang dilansir laman New York Post.

Halaman:


Sumber NYPost
Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.