5 Cara Mengedukasi Anak soal Covid-19

Kompas.com - 18/03/2020, 08:15 WIB
Ilustrasi mengedukasi anak soal virus corona dengan bahasa yang mudah dipahami anak-anak. imtmphotoIlustrasi mengedukasi anak soal virus corona dengan bahasa yang mudah dipahami anak-anak.

KOMPAS.com - Bukan hanya untuk anak-anak, bagi orangtua virus corona juga merupakan hal baru. Karena itu tak semua orangtua nyaman membicarakan soal virus corona dengan anak.

Beberapa mengatakan, mereka membicarakannya setiap hari, sementara yang lain khawatir membicarakannya bisa membuat anak-anak mereka lebih cemas atau takut.

Bagi kebanyakan orang - termasuk anak-anak - virus corona baru, yang menyebabkan penyakit yang disebut Covid-19, hanya menghasilkan gejala ringan atau sedang, seperti demam dan batuk.

Namun bagi yang lain, terutama orang dewasa yang berusia lebih tua dan orang-orang dengan masalah kesehatan yang sudah ada, dapat menyebabkan penyakit yang lebih parah, termasuk pneumonia hingga menyebabkan kematian.

Baca juga: Tips Parenting Selama Pandemi Corona

Cara-cara berikut ini bisa dicoba dilakukan untuk berbicara pada anak tentang virus corona.

1. Yakinkan anak banyak pasien yang sembuh

Berita yang selalu update di televisi, daring, cetak maupun radio memudahkan kita untuk mengetahui berita terbaru tentang virus corona di negara kita.

Dari berita pula kita lihat bahwa para penderita virus corona banyak yang dinyatakan sembuh.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia, yang telah menyatakan wabah sebagai pandemi, orang dengan penyakit ringan pulih dalam waktu sekitar dua minggu, sementara mereka dengan penyakit yang lebih parah mungkin membutuhkan tiga hingga enam minggu untuk pulih.

2. Jujur pada anak

Saran para ahli psikologi anak adalah untuk meyakinkan, fokus pada langkah-langkah proaktif dan melakukan penelitian untuk menjawab pertanyaan anak-anak secara jujur.

Di rumah Kathleen McEvoy di Norton, Massachusetts, dia dan suaminya, Thom Daly, memutuskan untuk berbicara dengan putri mereka yang berusia 8 tahun, Kennedy, sebelum sesuatu seperti penutupan karantina atau sekolah diumumkan.

"Kami pikir itu akan membingungkan dan menakutkan bagi seorang anak jika mereka diberitahu bahwa sekolah harus ditutup selama dua minggu," kata McEvoy.

"Kami merasa itu penting untuk memberinya banyak informasi, tentang bagaimana ini dapat memengaruhi hidupnya bahkan jika kita belum tahu persis bagaimana,” ujarnya.

Baca juga: Gejala Infeksi Corona pada Anak Lebih Ringan

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X