Kompas.com - 19/03/2020, 10:22 WIB
Seorang wanita memakai masker wajah saat berswafoto di Galleria Vittorio Emanuele II setelah dekrit yang memerintahkan seluruh Italia untuk ditutup sebagai tindakan keras yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk mencegah penyebaran virus COVID-19, di Milan, Italia, Selasa (10/3/2020). Kian merajalelanya virus corona (COVID-19) membuat sejumlah kawasan di berbagai belahan dunia yang selama ini dikenal ramai seketika berubah menjadi sepi. ANTARA FOTO/REUTERS/FLAVIO LO SCSeorang wanita memakai masker wajah saat berswafoto di Galleria Vittorio Emanuele II setelah dekrit yang memerintahkan seluruh Italia untuk ditutup sebagai tindakan keras yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk mencegah penyebaran virus COVID-19, di Milan, Italia, Selasa (10/3/2020). Kian merajalelanya virus corona (COVID-19) membuat sejumlah kawasan di berbagai belahan dunia yang selama ini dikenal ramai seketika berubah menjadi sepi.

KOMPAS.com -  Italia memiliki kasus infeksi Covid-19 terbanyak kedua di dunia, yaitu 27.980 kasus --kedua setelah China-- dan hampir 2.000 orang meninggal dunia. Saat ini para peneliti sedang mempelajari alasannya.

Salah satu yang diduga menjadi penyebab cepatnya penyebaran virus corona di negara pizza ini adalah orang Italia biasanya hidup multi-generasi, di mana orang muda dan lansia hidup dalam satu rumah dan sering menghabiskan waktu bersama.

Temuan itu ditulis dalam makalah baru yang diterbitkan di Open Science Framework oleh para peneliti di University of Oxford.

Makalah itu menuliskan, Italia memiliki salah satu populasi penduduk tertua di dunia --23,3 persen orang berusia di atas 65 tahun-- dan di banyak rumah tangga, lintas generasi hidup bersama atau berdekatan dan sering berinteraksi.

"Sangat jelas perkembangan dan dampak pandemi ini mungkin sangat terkait dengan komposisi demografis populasi, khususnya struktur usia populasi," tulis peneliti.

Baca juga: Bantuan untuk Wabah Virus Corona, China Kirim Pakar Medis ke Italia

Penulis penelitian menyebut, orang berusia muda dapat terinfeksi tanpa menunjukkan gejala dan menularkan kepada orang yang lebih tua, serta sering bepergian,  dapat menyebarkan virus lebih jauh di negara itu.

Itu sebabnya membuat jarak sosial atau social distancing menjadi lebih penting, terutama kita berbicara tentang kontak antar generasi, menurut peneliti.

Kendati demikian, daerah yang memiliki populasi orang tua dalam jumlah banyak tidak menjamin sebuah bencana akan terjadi.

Jepang menggunakan pengujian awal ekstensif dan kontrol perjalanan yang ketat sejak dini dan hanya melaporkan 814 kasus virus corona serta 24 kematian, kendati 28 persen populasi berusia di atas 65 tahun.




Sumber NYPost
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X