Kompas.com - 19/03/2020, 21:50 WIB
Ilustrasi. trioceanIlustrasi.

KOMPAS.com - National Health Service (NHS) melaporkan, gejala utama virus corona adalah batuk terus-menerus, suhu tinggi yang berarti kita merasa panas saat menyentuh dada atau punggung, dan sesak napas.

Namun, para ilmuwan AS kini mengklaim, orang dengan Covid-19 bisa jadi mengalami sakit perut sebelum mengalami gejala seperti flu ini.

Sebuah studi yang diterbitkan dalam American Journal of Gastroenterology itu menunjukkan, orang akan mengalami masalah pencernaan, seperti diare, ketika mereka terinfeksi virus corona.

Baca juga: Studi: Virus Corona Bisa Bertahan Lama di Udara dan Permukaan

Para peneliti menganalisis data dari 204 pasien Covid-19 di provinsi Hubei, China dan menemukan 48,5 persen pasien tiba di rumah sakit dengan gejala pencernaan seperti diare, muntah, atau sakit perut.

Setelahnya, para peneliti menyatakan, pada beberapa orang, gejala pencernaan bisa muncul lebih dulu sebelum gejala pernapasan Covid-19.

Di samping itu, orang-orang yang termasuk dalam penelitian ini juga memiliki kasus penyakit yang lebih parah.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Dalam penelitian ini, pasien COVID-19 dengan gejala pencernaan memiliki hasil klinis lebih buruk dan risiko kematian lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak memiliki gejala pencernaan," jelas Brennan M.R Spiegel, co-editor in chief American Journal of Gastroenterology.

"Ini menekankan pentingnya menyertakan gejala seperti diare untuk dicurigai sebagai Covid-19 pada awal perjalanan penyakit sebelum gejala pernapasan berkembang."

Baca juga: Hindari Virus Corona, Seorang Pria Pakai Kostum T-Rex di Jalan

Terlepas dari penemuan ini, setiap orang harus tetap waspada dalam melihat gejala utama virus corona, termasuk batuk kering dan suhu tinggi, karena Covid-19 menyerang paru-paru dan sistem pernapasan orang yang telah terinfeksi.

Beberapa pasien bisa juga mengalami sakit dan nyeri, hidung tersumbat, pilek atau sakit tenggorokan, tetapi ini biasanya ringan dan dimulai secara bertahap.

Berkembangnya gejala-gejala ini tidak selalu berarti kita memiliki virus dan mirip dengan penyakit lain, seperti flu biasa.

Beberapa orang tidak akan mengembangkan semua gejala tersebut, dan bahkan sama sekali tidak menunjukkan gejala, kata para ahli.

Menurut Sir Patrick Vallance, kepala penasihat ilmiah Inggris, sangat mungkin ada beberapa tingkat penularan tanpa gejala.

"Jelas ada banyak penularan di awal penyakit ketika gejalanya sangat ringan."

Baca juga: Awas, Serangan Panik Punya Gejala Mirip Virus Corona

Sedangkan menurut World Health Organization (WHO), sekitar satu dari setiap enam yang terkena Covid-19 mengalami sakit parah dan sulit bernapas.

Orang yang lebih tua dan mereka yang memiliki masalah medis mendasar seperti tekanan darah tinggi, masalah jantung atau diabetes, paling berisiko terkena virus corona dengan dampak lebih serius.

Dampal penyakit yang lebih serius ini, bisa mencakup pneumonia dan pembengkakan di paru-paru, di mana oksigen sulit masuk ke dalam aliran darah, yang menyebabkan kegagalan organ dan kematian.

Pneumonia berat dapat membunuh orang dengan menyebabkan paru-paru "tenggelam" dalam cairan yang membanjiri.

WHO menyebut, orang yang terkena demam, batuk, dan kesulitan bernapas harus mencari perawatan medis.

Virus ini diyakini ditularkan di antara orang-orang melalui tetesan yang menyebar dari batuk, sentuhan atau berjabat tangan.

Baca juga: Vaksin Flu, Bisakah Tangkal Virus Corona?

Walaupun bersin bukanlah gejala dari virus corona, itu juga dianggap sebagai cara tetesan menyebar.

Gejala diperkirakan muncul antara dua hingga 11 hari. Penelitian baru menemukan, rata-rata masa inkubasi Covid-19 adalah 5,1 hari.

Sebuah studi yang dilakukan Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health di AS menemukan, hampir semua (97,5 persen) dari mereka yang mengalami gejala tampak dalam sekitar 11 hari infeksi.

Para ahli mengatakan, ada sedikit bukti di mana orang dapat menyebarkan virus tanpa menunjukkan gejala.

Baca juga: Jenis Golongan Darah yang Paling Rentan jika Terinfeksi Virus Corona

Saat ini, tidak ada vaksin untuk melindungi orang dari virus corona. Antibiotik tidak membantu, karena mereka tidak bekerja melawan virus, hanya bakteri.

National Health Service mengatakan, perawatan bertujuan untuk meringankan gejala saat tubuh kita melawan penyakit.

Mereka yang terinfeksi harus mengisolasi diri dari orang lain sampai mereka benar-benar pulih.

Baca juga: Ikuti Protokol Penanganan Corona Ini, Jangan Langsung ke RS Rujukan

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Sumber The Sun
Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.