Mengapa Orang Panik dan Borong Makanan Saat Wabah Covid-19

Kompas.com - 23/03/2020, 14:07 WIB
Pengunjung memborong tisu toilet di Bangkok, Thailand,  imbas panic buying yang disebabkan wabah virus corona, Senin (16/3/2020). Di tengah kepanikan wabah virus corona, selain kebutuhan pokok, tisu toilet menjadi salah satu barang yang paling diburu di banyak negara. AFP/JACK TAYLORPengunjung memborong tisu toilet di Bangkok, Thailand, imbas panic buying yang disebabkan wabah virus corona, Senin (16/3/2020). Di tengah kepanikan wabah virus corona, selain kebutuhan pokok, tisu toilet menjadi salah satu barang yang paling diburu di banyak negara.

KOMPAS.com – Sejak merebaknya wabah Covid-19, kunjungan ke supermarket di berbagai kota dunia menyajikan pemandangan hampir sama: rak-rak makanan yang kosong karena diborong, sulit mencari masker, hand sanitizer, atau pun sabun antikuman.

Walau pun sebagian besar supermarket, toko, dan restoran tidak tutup, tetapi tetap saja banyak masyarakat yang melakukan panic buying alias memborong bahan logisitik untuk disimpan di rumah sebagai persiapan.

Membeli barang-barang karena panik (panic buying) menurut para pakar terjadi ketika ada dorongan otak untuk bersiap ke mode survival (bertahan hidup).

Menurut pakar perilaku manusia Dr.Ali Fenwick, setidaknya ada empat alasan mengapa pada saat wabah seperti sekarang ini orang merasa perlu memborong dan menimbun barang di rumah:

1. Modus bertahan hidup
Situasi yang tidak pasti atau mengancam akan membuat bagian otak yang lebih primitif mengambil alih, dan tujuan utamanya adalah membuat kita tetap hidup. Kondisi ini akan menekan atau mengacaukan pola pikir rasional. Jadi, meski pemerintah berjanji kebutuhan pokok akan tetap terjamin, tak banyak orang yang mendengarkan.

Mayoritas orang belum pernah berada dalam situasi krisis kesehatan seperti sekarang, sehingga mereka lebih memilih membeli makanan lebih banyak dari pada beresiko kelaparan.

Baca juga: Pemerintah Batasi Pembelian Bahan Pangan, Ini Komentar Peritel

2. Efek kelangkaan
Langkanya beberapa barang dan produk membuat orang menganggapnya sebagai hal yang berharga, sehingga mereka rela membayarnya dengan harga mahal. Hal itu juga membuat kita membeli barang yang tidak kita butuhkan karena kita tiba-tiba menganggapnya itu bernilai lebih.

Hal itu bisa menjelaskan mengapa ada orang yang kalap membeli berdus-dus mi instan atau tisu toilet, walau di rumah masih ada.

Seorang pembelanja berjalan melewati rak-rak makanan kosong di tengah pandemi coronavirus COVID-19 yang baru, di Manchester, Inggris utara pada 20 Maret 2020. AFP/Oli SCARFF Seorang pembelanja berjalan melewati rak-rak makanan kosong di tengah pandemi coronavirus COVID-19 yang baru, di Manchester, Inggris utara pada 20 Maret 2020.

3. Perilaku kawanan
Fenwick menjelaskan bahwa faktanya berita tentang orang-orang yang memborong barang-barang, bahkan yang sebenarnya tidak dibutuhkan, bisa memicu kita untuk melakukan hal yang sama.

Segala sesuatu memang serba tidak pasti sekarang ini, entah kapan wabah akan berakhir dan ekonomi bangkit kembali. Hal ini akan mendorong kita melakukan apa yang orang lain perbuat, bahkan meski hal itu tidak tepat.

Baca juga: 3 Jenis Bahan Makanan Penting Selama Isolasi di Rumah

4. Rasa kendali
Dalam situasi yang tidak pasti, kita butuh merasa memiliki kendali akan sesuatu. Membeli barang kebutuhan pokok dalam jumlah banyak membuat kita merasa punya kendali, karena kita menganggap jika hal yang terburuk datang, kita bisa memenuhi kebutuhan keluarga.

Perilaku memborong barang-barang saat wabah, menurut Fenwick, disebabkan oleh faktor psikologi dan lingkungan.

“Dalam modus bertahan hidup, kita membuat keputusan berdasarkan emosi dan gampang terpengaruh oleh pengaruh sosial. Jadi, kita panik dan memborong barang karena yakin orang lain juga melakukannya,” katanya.

 

Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X